CARUBAN NAGARI-Pasukan Inggris mendarat di tanah Jawa pada 4 Agustus 1811. Akan tetapi, Inggris baru efektif menguasai Jawa setelah Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Jan Willems Janssens menyerahkan diri di Salatiga, 18 September 1811. Arkian, secara resmi, Thomas Stamford Raffles didaulat menjadi Letnan Gubernur Pulau Jawa dan Wilayah-wilayah Jajahan Lainnya (Lieutenant-Governor of Java and Its Dependencies).
Meskipun demikian, Raffles sudah tahu banyak ihwal tanah Jawa. Soalnya, sejak 19 Oktober 1810, ia ditugaskan oleh Lord Minto (gubernur jenderal East India Company di Benggala, India) sebagai wakil gubernur jenderal untuk urusan dengan negeri-negeri Melayu (Agent to Governor-General with the Malay States). Tugas itu diberikan sebagai bagian dari rencana Lord Minto untuk menduduki Jawa, setelah Mauritius dan Bourbon.
Untuk memaksimalkan tugas tersebut, Raffles merekrut sejumlah mata-mata (selain para juru tulis) dan bertindak sebagai plenipotentiary (utusan yang berkuasa penuh). Para mata-mata itu ditugaskan untuk menyelisik kekuatan militer Prancis-Belanda di Jawa.Mereka juga diminta untuk melaporkan kondisi kerajaan-kerajaan pribumi di serata Nusantara. Dari Jawa, Raffles beroleh informasi detail, termasuk jumlah dan komposisi kekuatan militer. Informasi lainnya adalah mengenai posisi benteng serta rencana pertahanan yang dibuat oleh Herman Willem Daendels (dan penerusnya, Jan Willem Janssens).
Baca Juga:Tak Bisa Berbuat Apa-apa, Sultan Sepuh Cirebon Mengundurkan DiriSelamat Malam, Beredar Kembali Foto Penampakan Sosok Menakutkan, Terbang Bersama Organ Tubuhnya?
Dikutip dari Letters of Sincerity: The Raffles Collection of Malay Letters (1780-1824) A Descriptive Account with Notes and Translation. Kuala Lumpur: The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society. Disebutkan, Raffles merekrut sejumlah mata-mata lokal, seperti Sayid Zain (masyhur sebagai Tengku Pangeran Sukma Dilaga; dari Siak, Riau), Tengku Raden Muhammad dan Sayid Abu Bakar Rum (kerabat dekat Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin), Haji Muhammad Ali (dari Mataram), Syeikh Ali (dikirim ke Kerajaan Sambas, Kalimantan), serta Tambi Ismail (dikirim ke Kerajaan Pedas, Tanah Rembau, Riau). Terdapat pula beberapa mata-mata berkebangsaan asing, seperti David Macdonald, John Scott, Charles Tait, William Greigh, dan Letnan Smith.
Tugas untuk menyelisik situasi di Nusantara diberikan kepada para mata-mata lokal. Sementara mata-mata berkebangsaan asing ditugaskan untuk mempelajari rute-rute laut –sekaligus memilih jalur terbaik– menuju Jawa. Mereka juga bertugas menemani para agen lokal mengunjungi negeri-negeri Melayu. Berdasarkan laporan yang diterima beberapa bulan sebelum pendudukan, Raffles menyimpulkan bahwa VOC telah menjalankan administrasi yang sangat buruk di tanah Jawa.
