Brawijaya V terpikat dengan anak perempuan Syekh Bentong yang bernama Siu Ban Ci. Agus Aris Munandar dan Edi Suhardi Ekajati (1991) dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa menyebutkan, sang raja lantas menikahi putri Cina itu kendati hanya sebagai istri selir (hlm. 59).
Terlepas dari sejumlah versi atas kontroversi yang terjadi kemudian, pernikahan itu dikaruniai seorang anak laki-laki.
Tan Go Hwat menyematkan nama Jin Bun untuk cucunya itu, nama khas Cina meskipun tanpa marga di depannya. Nama Jin Bun berarti “kuat”, demikian Slamet Muljana dalam bukunya Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, 2005: 89. Nantinya, Jin Bun dikenal dengan nama Raden Patah, merujuk istilah Arab yakni Fatah yang berarti “kemenangan”.
Baca Juga:Apakah Ada Walisongo Keturunan Tionghoa?Diduga dari Abad ke-7, Masjid Tertua di Dunia Ditemukan di Israel
Jin Bun alias Raden Patah pada akhirnya nanti justru melawan ayahnya sendiri, meruntuhkan Majapahit sekaligus mengakhiri dominasi Hindu dan menggantinya dengan Islam. Pada 1475, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.
Berdirinya Kesultanan Demak tak pelak mengubah peta keagamaan di Jawa secara drastis. Jawa yang sudah sekian lama dikuasai kerajaan-kerajaan bercorak Hindu atau Buddha, beralih menjadi wilayah yang sebagian besar penduduknya menganut agama Islam. Walisongo sangat berperan dalam suksesnya misi Islamisasi di Jawa ini.
Setidaknya ada dua versi utama yang dirujuk untuk memaknai istilah Walisongo. Pertama, Wali Songo diartikan sebagai wali (orang suci yang dicintai Tuhan) berjumlah 9 orang. Songo/sanga dalam bahasa Jawa berarti angka sembilan.
Buku Politik Walisongo dan Visi Kebangkitan Bangsa yang ditulis Umaruddin Masdar, Eman Hermawan, dan Ahmad Baso (2007), menyebutkan, dalam setiap kurun waktu, Walisongo diusahakan tetap berjumlah 9 orang sehingga jika ada seorang wali yang meninggal maka selalu diganti oleh wali lain yang disepakati (hlm. 29).
Adapun versi kedua menjelaskan bahwa kata songo/sanga berasal dari istilah Arab yakni tsana yang berarti “mulia”, semakna dengan mahmud yang artinya “terpuji” demikian Widji Saksono dalam bukunya Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, 1995: 18.
Jadi, Walisongo menurut versi ini dapat dimaknai sebagai “orang-orang suci yang mulia atau terpuji”, tanpa harus selalu berjumlah 9 orang. Walisongo tidak melulu diidentikkan kepada sosok tokoh atau personal, melainkan lebih mengarah ke suatu majelis atau dewan dakwah.
