Apakah Ada Walisongo Keturunan Tionghoa?

Makam Malik Ibrahim di Gresik (KITLV)
Makam Malik Ibrahim di Gresik (KITLV)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Sejarah terkait beberapa Walisongo adalah keturunan Tionghoa masih menjadi perdebatan sampai sekarang. Meskipun demikian, dengan catatan sejarah yang ditemui, rasa-rasanya sulit membantah kalau beberapa dari Walisongo merupakan keturunan Tionghoa.

Hew Wai Weng, dalam bukunya yang berjudul Berislam ala Tionghoa: Pergulatan Etnisitas Dan Religiositas Di Indonesia mengungkapkan setidaknya ada empat dari sembilan Walisongo yang merupakan keturunan Tionghoa. Mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, serta Sunan Muria.

Sumber lainnya, Walisongo dari Cina dari lampiran naskah Catatan Tahunan Melayu dalam buku Tuanku Rao tulisan Ir Mangaradja Onggan Parlindungan yang terbit tahun 1964.

Baca Juga:Diduga dari Abad ke-7, Masjid Tertua di Dunia Ditemukan di IsraelSesalkan Tindakan Kelompok Manapun, MUI: Tuduhan Radikalisme Terhadap Din Syamsuddin Fitnah Keji

Dalam bukunya, Parlindungan menceritakan asal muasal naskah itu yang diperoleh dari pejabat Belanda Poortman, teman karib ayahnya, tahun 1940. Poortman yang disebut pernah menjadi residen mendapat naskah itu setelah menggeledah semua arsip di Kelenteng Sam Po Kong Semarang dan Talang Cirebon tahun 1928.

Penulis sejarah Slamet Muljana memakai lampiran naskah Parlindungan itu sebagai salah satu sumber bukunya yang berjudul Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara terbit tahun 1968.

Dia memercayai naskah sebagai kekayaan sumber penulisan awal sejarah Islam di Jawa. Karena ada kemungkinan walisongo berasal dari Cina. Buku itu lantas dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung tahun 1971.

Peneliti sejarah dari Belanda HJ de Graaf dan TH Pigaeud juga meneliti naskah Parlindungan. Hasil penelitiannya diterbitkan berupa buku Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centurie: The Malays Annals of Semarang and Cirebon terbit tahun 1984.

Mereka tertarik juga membaca dan membandingkan dengan sumber sejarah catatan pelaut Eropa, Cina, surat-surat pemerintah kolonial, dan babad Jawa tentang para walisongo.

Menurut keduanya, naskah itu menarik tapi juga meragukan. Meragukannya karena naskah aslinya tidak ada meskipun sudah dicari hingga ke museum arsip Belanda. Naskah Lampiran itu hanya berupa terjemahan dalam bahasa Melayu dengan tambahan catatan dari Parlindungan sendiri.

Keraguan lain adalah nama Poortman yang disebut Parlindungan pernah menjadi residen tidak ditemukan identitasnya di catatan administrasi Belanda. Apalagi ketika isinya dicocokkan dengan sumber lain tidak ada keselarasan kejadian, tokoh, dan tahun kejadian.

0 Komentar