CARUBAN NAGARI-Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharja menjadi raja di Pakuan Pajajaran pada 1482 M. Masa kecil Prabu Siliwangi dihabiskan bersama kakeknya, Prabu Niskala Wastu Kancana di Kawali. Berdasarkan sumber-sumber sejarah yang ditemukan, berupa babad dan wawacan, disebutkan bahwa Prabu Siliwangi memiliki istri berjumlah 151 orang.
Baca:
Ada nama Nyi Subang Larang dengan nama lain Subang Karancang. Dia merupakan salah satu Istri Sri Baduga Maharaja, seorang Raja Kerajaan Pakuan Pajajaran yang lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi.
Pada mulanya Prabu Siliwangi sangat mencintai istrinya itu, akan tetapi setelah keduanya memiliki anak rupanya kemudian terjadi konflik, dan konflik tersebut kemudian menyebabkan dibuangnya Subang Larang dari Istana.
Baca Juga:Isra Miraj: Peristiwa Nabi Melewati 7 Lapis Langit hingga Sidratul Muntaha, Dimana Langit ke-7?Tegang 1 Menit 43 Detik, Baca Qonut dan Ayat Kursi Saat Disuntik
Menurut Naskah Kuningan, Subang Larang merupakan anak dari Nyi Karancang Singapuri beliau diceritakan berasal dari Kerajaan Singapura, yaitu kerajaan bawahan Pajajaran yang terletak di desa Mertasinga Kec Gunung Jati sekarang, beliau merupakan anak Mangkubhumi di Kerajaan itu.
Sementara menurut Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Subang Larang adalah anak dari Patih Kerajaan Surantaka yang bernama Ki Ageng Tapa dari istrinya yang bernama Nyi Ratna Karancang, Subang Larang dilahirkan pada tahun 1404.
Sementara itu kisah mengenai dibuangnya Subang Larang oleh Prabu Siliwangi dari Istana Pajajaran dikisahkan dalam Naskah Mertasinga, dalam Naskah ini disebutkan bahwa sebab-sebab dibuangnya Subang Larang dari Istana disebabkan karena ia telah lancang menyimpan rahasia keIslamannya.
Di istana kerajaan Pajajaran tidak boleh ada yang menyebut nama Allah. Oleh sebab itulah setelah peristiwa itu Subang Larang kemudian diasingkan di Banten.
Mendapati ibunya diperlakukan seperti itu, anak tertua Subang Larang, Pangeran Walangsungsang dan Adiknya Rara Santang kemudian turut meninggalkan istana karena sakit hati.
Kisah pembuangan yang dialami oleh Subang Larang tersebut dalam Naskah Mertasinga dikisahkan oleh Subang Larang sendiri ketika beliau bertemu dengan cucunya Syarif Hidayatullah di Cirebon.
