CARUBAN NAGARI-Nama Fatahillah kini banyak diabadikan sebagai nama diri, nama bangunan, taman, jalan, perusahaan, dan nama lembaga pendidikan. Tidak hanya di Jakarta, penggunaan nama Fatahillah juga populer di Banten dan Cirebon.
Fatahilah bahkan menjadi nama taman di depan gedung Museum yang juga bernama Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia, gedung yang pada masa kolonial merupakan Stadhuis atau Balaikota.
Lantas siapa itu Fatahillah?
Kisah tentang Jakarta dikatakan tidak akan lepas dari keberadaan tokoh Fatahillah. Meski sebagian pakar menganggapnya sebagai tokoh mitos atau legenda, sebagian lagi justru memandangnya sebagai tokoh sejarah.
Baca Juga:Di Pinggir Pantai, Bawa Muntahan 7 Kilogram Panjang 61 centimeter Senilai Rp3,6 miliar, Wanita Ini Jadi MiliarderSaat Digelitik Ikan Pari Ini Tersenyum, Lihat Videonya
Bahkan hingga saat ini, Fatahillah masih dianggap sebagai tokoh pendiri Kota Jakarta. Fatahillah adalah tokoh yang dikenal umum telah berhasil menghilangkan pengaruh kekuasaan Portugis pada 1527. Pada tahun itu pula, ia mengganti nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta yang berarti “Kota Kemenangan”.
Menurut penelusuran dari berbagai sumber, nama Fatahillah sama sekali tidak didapatkan dalam babad atau sumber tradisi. Nama tersebut justru terdapat dalam jenis sumber modern, yakni buku Geschiedenis van Java, Sedjarah Tanah Djawa II susunan W Fruin-Mees, terbitan Balai Poestaka, 1922.
Diketahui, buku itu berisi keterangan: “Keradjaan-keradjaan Islam sampai kepada waktoe ketetapan kekoeasaan Kompeni.” Buku diterjemahkan ke bahasa “Melajoe” oleh SM Latif.
Dalam buku itu, disebutkan orang pertama yang menampilkan Fatahillah sebagai nama tokoh sejarah adalah Dr. B. Schrieke, yang mengaitkan tokoh tersebut dengan sejarah Kota Jakarta pada masa masuknya Islam.
Dasar penafsiran Schrieke adalah berdasarkan catatan orang Portugis tahun 1546 tentang “Raja Sunda” yang bernama “Tagaril”. Menurutnya, Tagaril merupakan salah tulis dari kata Fagaril. Kata Fagaril sendiri merupakan perubahan dari kata aslinya, yaitu Fatahillah yang berarti “kemenangan Allah”.
Sedikit berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh Schrieke, Prof. Hoesein Djajadiningrat lebih condong menganggap kata Tagaril tak ubahnya Fachrillah, bentuk sampingan dari Fachrullah (kemashyuran Allah).
Karena Fachrillah dapat disingkat menjadi Fachril—mungkin orang Portugis salah dengar atau salah tulis—maka muncullah nama Tagaril. Sementara Sejarah Banten menyimpulkan bahwa tokoh Tagaril itu identik dengan tokoh Faletehan atau Falatehan sebagaimana yang disebut berita Portugis lain tahun 1527. Tokoh itu bahkan dianggap identik pula dengan Sunan Gunung Jati yang disebut dalam babad.
