Sunan Giri Jadi Raja Majapahit Selama 40 Hari?

UPHOTO 20171123 075817 scaled
Buku Sunan Giri Karya Umar Hasyim Terbit 1987
0 Komentar

Meskipun pengaruh Majapahit mulai memudar, pemusatan kekuasaan Muslim di Tanah Jawa belum terjadi. Pada 1582, Joko Tingkir meninggal dunia. Sepeninggalannya, Pangeran Benawa (putra Joko Tingkir) dan Arya Pangiri, yakni menantu Joko Tingkir, terlibat perebutan kekuasaan. Arya Pangiri keluar sebagai pemenang sehingga naik takhta dengan dukungan Panembahan Kudus.

Namun, pada 1586 Pangeran Benawa yang berkoalisi dengan Sutawijaya (Panembahan Senopati) menyerang balik Pajang. Hasilnya, Arya Pangiri kalah dan dipaksa kembali ke Demak, yakni tanah kelahirannya. Pangeran Benawa menjadi raja Pajang sampai 1587. Sepeninggalan Pangeran Benawa, tidak ada penerusnya sehingga Pajang mengalami kekosongan takhta. Dalam situasi demikian, Mataram menguasai Pajang.

Pada awal abad ke-17, Dinasti Mataram mulai mapan. Puncak kejayaannya terjadi dalam masa kekuasaan Sultan Agung (wafat 1645). Dia berusaha menyelaraskan tradisi Keraton Mataram dengan nilai-nilai Islami. Kecenderungan sinkretis demikian bukanlah hal yang jarang ditemui dalam falsafah Jawa.

Baca Juga:Patahan Sepanjang 29 Kilometer, BNPB Sebut Ada Potensi Bencana Sesar Lembang, WaspadaTanda Ramalan Sudah Tertulis Ratusan Tahun Berlalu, Penelitian Ilmiah Berusaha Ungkap Kapan Terjadinya Kiamat

Dengan demikian, kedatangan Islam tidak mesti menghapus sama sekali budaya asli setempat. Misalnya, Sultan Agung memberlakuan sistem kalender Jawa yang memadukan kalender Hijriyah dengan kalender Saka. Untuk menekankan aspek kejawaan, lanjut Ricklefs, Sultan Agung masih menuruti beberapa warisan kebudayaan Jawa pra-Islam. Di antaranya, kepercayaan terhadap mitos Nyi Roro Kidul. (*)

0 Komentar