Sunan Giri Jadi Raja Majapahit Selama 40 Hari?

UPHOTO 20171123 075817 scaled
Buku Sunan Giri Karya Umar Hasyim Terbit 1987
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Prof Merle Calvin Ricklefs dalam bukunya, Mengislamkan Jawa terbit tahun 2012, menjelaskan secara cukup komprehensif pengaruh Islam dan kerajaan-kerajaan Islam terhadap kebudayaan Jawa.

Sejarawan Universitas Cornell itu menyebutkan, tonggak perkembangan agama ini di Tanah Jawa dapat ditelusuri sejak abad ke-14. Bukti pertama yang menunjukkan hal itu adalah temuan beberapa nisan milik kalangan ningrat Muslim di lingkungan Kerajaan Majapahit. Nisan-nisan ini bertarikh tahun 1368-1369.

Surutnya pengaruh Majapahit memberi cukup ruang bagi tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam di tanah Jawa. Itu dipaparkan dalam karya klasik Babad Tanah Jawi. Dalam artikelnya, The Genesis of the Babad Tanah Jawi tahun 1987, JJ Ras menjelaskan bahwa karya tersebut tidak hanya membahas Kesultanan Mataram atau keraton-keraton lainnya.

Baca Juga:Patahan Sepanjang 29 Kilometer, BNPB Sebut Ada Potensi Bencana Sesar Lembang, WaspadaTanda Ramalan Sudah Tertulis Ratusan Tahun Berlalu, Penelitian Ilmiah Berusaha Ungkap Kapan Terjadinya Kiamat

Kitab setebal 2.400 halaman ini juga menuturkan mitos kejadian umat manusia sejak Nabi Adam hingga 1745, yakni tahun terbentuknya Keraton Surakarta. Lantaran mencampur mitos dengan informasi historis, Babad Tanah Jawi digunakan secara kritis oleh para sejarawan.

Prof Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara memandang Babad Tanah Jawi sebagai sumber yang dapat diandalkan untuk mengetahui Islamisasi dan runtuhnya Majapahit. Uraiannya berkisar pada Prabu Brawijaya alias Raden Alit dengan patihnya, Gadjah Mada. Prabu Brawijaya dikisahkan gentar terhadap pengaruh Sunan Giri.

Sebab, orang-orang Majapahit mulai banyak belajar kepadanya. Prabu Brawijaya takut bilamana Sunan Giri akan memberontak terhadap Majapahit. Untuk itu, dia memerintahkan Gadjah Mada untuk menyerbu kediaman Sunan Giri, tetapi serangan ini pun tidak berhasil. Sehabis perang, Sunan Giri meninggal dunia.

Cucunya, Sunan Parapen, menjadi penggantinya. Namun, intimidasi Prabu Brawijaya atas para pengikut Sunan Giri berkurang setelah dia sendiri terkena musibah usai mencoba membongkar makam Sunan Giri.

Sebelum Sunan Giri wafat, Raden Patah telah mengundangnya bersama dengan bupati Tuban, bupati Madura, bupati Surapringga, dan para sunan lainnya. Tujuan pertemuan ini adalah konsolidasi kekuatan Muslim untuk melawan Kerajaan Majapahit.

Namun, secara pribadi hubungan Raden Patah dengan Prabu Brawijaya sama sekali dekat. Sebab, ia merupakan putra sang prabu dari hasil pernikahannya dengan putri Cina. Istrinya itu adalah anak kandung Kiai Bantong, seorang saudagar sekaligus sahabat Prabu Brawijaya sendiri.

0 Komentar