Moksa merupakan bagian terakhir dari Panca Srada yaitu lima keyakinan umat Hindu. Adapun bagian dari kelima Panca Srada adalah percaya adanya Brahman, percaya adanya Atman, percaya adanya Karma Pala, percaya adanya Punarbhawa, dan percaya adanya Moksa. Moksa sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akar kata “Muc” yang artinya “Membebaskan” atau “Melepaskan”. Demikian dikutip dari Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti SMA/SMK Kelas XII. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud.
Baca: Kisah Penobatan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran Terjadi Gempa Bumi, Begini Isi Lontar Sangara Bumi
Berdasarkan pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa Moksa adalah terbebasnya jiwa (atman) dari ikatan duniawi atau samsara (kelahiran kembali). Ngurah Nala dan Sudharta menjelaskan apabila Atman itu sudah bersih, oleh karena Ia mentaati petujuk-petunjuk Sang Hyang Widhi (Tuhan), maka Atman itu tidak terikat dengan hokum karma, disebut Niskama Karma, dan Tidak lagi mengalami Punarbhawa, tidak mengalami Samsara. Keadaan inilah yang disebut Moksa atau kelepasan (pembebasan).
![]()
Baca Juga:WhatsApp akan Latih 20 Ribu Warga IndonesiaPerdana Menteri Israel Jongkok Tampak Buang Air Kecil, Patung Bugil Benjamin Netanyahu
Prabu Siliwangi yang terkenal adalah Sribaduga Maharaja. Ia mokta/moksa atau ngahiyang alias wafat pada 31 Desember 1521 M dan dipusarakan di Rancamaya, Bogor. Informasi ini didapatkan dari Prasasti Batu Tulis Bogor yang dibuat oleh putranya Surawisesa dan bersumber Naskah lontar Carita Parahyangan, “Ratu Jayadéwata, sang mwakta ring Rancamaya” yang artinya Ratu Jayadewata yang moksa di Rancamaya. Namun di kalangan masyarakat Sunda, hal ini pun terus menjadi perdebatan.
Sayang sekali, Rancamaya Bogor sekarang ini telah berubah menjadi kompleks perumahan mewah dan lapangan golf. (*)
