CARUBAN NAGARI-Dalam Naskah Sunda Kuno Carita Parahyangan (CP), terdapat beberapa nama raja disebut Sang Mokteng atau Sang Lumahing. Istilah mokteng atau lumahing disematkan bagi raja-raja yang telah mangkat. Dalam bahasa Jawa kuno kata mokteng yang berasal dari kata mokta ring, memiliki makna yang “melesat di”. Lumahing dalam bahasa Kawi ditulis Lumaheng yang artinya “bertempat di”.
Baca: Pajajaran Bukanlah Nama Kerajaan, Prabu Siliwangi Jenazahnya DiperabukanMokteng berkaitan dengan moksa yang dimaknai kebebasan atau lepasnya jiwa raga dari ikatan duniawi menuju swarga. Mokta sebagai gambaran melesatnya (perjalanan) jiwa menuju swarga selalu di bubuhi kata ring yang menunjukan tempat. Lepasnya jiwa dalam naskah religi sunda kuno disebut juga kaleupasan.Biasanya penyebutannya mokteng maupun lumahing selalu satu paket dengan nama raja dan tempat wafatnya. Dengan kata lain sang mokteng maupun sang lumahing merupakan “gelar anumerta” bagi raja ataupun penguasa yang wafat di suatu tempat.
Baca: Teka-teki Nama Istri Pertama Prabu Siliwangi, Nhay Ambet Kasih atau Nyai Rambutkasih
Baca Juga:WhatsApp akan Latih 20 Ribu Warga IndonesiaPerdana Menteri Israel Jongkok Tampak Buang Air Kecil, Patung Bugil Benjamin Netanyahu
Misalnya prabu Ragasuci dikenal sebagai Sang mokteng Taman, Prabu Langlangbumi disebut Sang mokteng Kreta, Prabu Linggabuana disebut Sang Lumaning Bubat, Dewa Sanghyang bergelar Sang Mokteng Patapan, Prabhu Pucukwesi Sang Mokteng Hujungcariang, Sang Prabhu Wulunggadung Sang mokteng Jayagiri dan lain-lain.
Kata mokteng dan lumahing, dalam kronologi sejarah Sunda umumnya digunakan sebagai bahasa naskah karena dalam prasasti untuk menyebut raja yang wafat ditulis sida-mokta. Seperti pada Prasasti batu tulis bogor yang menyebut rahyang dewa niskala sa(ng) sida mokta di guna tiga (Rahyang Dewa Niskala yang di pusarakan di Guna Tiga) dan rahyang niskala wastu ka(n) cana sa(ng) sida mokta ka nusalarang (rahyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan di Nusa Larang).
Baca: Terungkap Istri Prabu Siliwangi, Carita Ratu Pakuan Sebut 56 Nama dan Asal-usulnya
Masyarakat Sunda secara umum menyebut istilah sang mokteng maupung sang Lumahing cukup dengan kata ngahiyang dan itu berlaku sampai saat ini. Istilah Ngahiyang ini terkenal melalui kisah Prabu Siliwangi ngahiyang. Kata ngahyang dipengaruhi oleh anasir agama lokal Sunda yang dalam naskah Siksa Kandang Karesian disebut Agama Jati Sunda, karena menempatkan unsur Hyang sebagai adikodrati tertinggi di atas dewa-dewa Hindu atau Buddha.
