Isu Perubahan Iklim, Polusi Bisa Memperkecil Alat Vital Pria

body image 2021032511
Ilustrasi: Terong sering disimbolkan sebagai alat vital laki-laki. (Foto: Dainis Graveris/Unsplash)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Bila kamu masih perlu satu lagi alasan untuk peduli pada isu perubahan iklim, barangkali kamu perlu tahu bahwa polusi tak hanya berpotensi memerangkap Bumi pada malapetaka global. Polusi ternyata juga mengganggu perkembangan reproduksi manusia, termasuk memperkecil ukuran penis laki-laki.

Melansir dari Euronews, seorang pakar epidemiologi dan ilmu lingkungan, Dr Shanna Swan, dalam bukunya ‘Count Down‘ (Simon & Schuster, 2021) mengatakan bahwa bahan kimia buatan berpengaruh pada ukuran penis pria.

Baca: Atmosfer Bumi akan Mengandung Sedikit Oksigen, Begini Hasil Kajiannya

Selain itu, ia menyebut bahwa peradaban modern ternyata juga menghambat perkembangan reproduksi manusia dan mendesak spesies manusia ke tubir kepunahan.

Baca Juga:Mengungkap Diagram Magis di Tanah SundaLukisan Pedagang Garam Suku Maya Kuno, Cirebon Tambak Garam Rakyat Terluas

Buku tersebut menyebut bahwa partikel polutan punya andil pada tingginya tingkat disfungsi ereksi, penurunan tingkat kesuburan, hingga meningkatnya jumlah bayi yang lahir dengan ukuran penis kecil.

“Di beberapa kawasan di dunia, rata-rata orang dewasa berumur 20an tahun saat ini kalah subur dengan kakek nenek mereka saat masih berusia 35 tahun,” tulis Dr Swan, sambil menambahkan bahwa situasi ini masuk kategori ‘krisis eksistensi global’.

Baca: Ada 42 Makam 10 Tak Dikenal di Kebun Raya Bogor, Salah Satunya Istri Prabu Siliwangi?

“Bahan kimia di lingkungan, dan gaya hidup tidak sehat, dalam peradaban kita mengganggu keseimbangan hormonal, dan menyebabkan banyak masalah reproduksi.”

Terlebih, menurut buku tersebut, spesies manusia memenuhi 3 dari 5 syarat untuk dikategorikan sebagai spesies terancam. “Tak hanya satu,” tulis Dr Swan, “kondisi manusia saat ini memenuhi tiga kriteria (sebagai spesies terancam).”

Berdasarkan hasil penelitian Dr Swan, disrupsi reproduksi disebabkan oleh bahan kimia bernama ftalat (phthalate) yang biasa dipakai dalam memproduksi plastik. Bahan ini disebut-sebut mengganggu sistem hormon endokrin pada manusia.

Ftalat sendiri dipakai untuk meningkatkan fleksibilitas suatu bahan kimia. Bahan ini bisa ditemukan di mainan anak-anak, bungkus makanan, deterjen, kosmetik, dan banyak produk lainnya. Namun, Dr Swan meyakini bahwa ftalat ini berakibat sangat buruk pada kesehatan manusia.

Baca Juga:Muhammadiyah Resmi Subuh Mundur 8 MenitKenali Tanda-Tanda Orang yang Jadi Tumbal Pesugihan

Baca: Di Kedalaman 60 Centimeter Tengkurap Tertimbun Batu, Temuan Kerangka Manusia di Situs Peninggalan Majapahit

0 Komentar