Kerajaan Sunda dalam Catatan China dan Jepang

3484
Ukiran Padma pada Prasasti Pasir Muara
0 Komentar

Tak dapat disangkal, bunga teratai masuk ke Tiongkok melalui pengaruh ajaran Buddha yang menyebar dari India sejak masa Dinasti Qin (221-206 SM). Ajaran Buddha semakin berkembang pada masa Dinasti Tang (618-907M) dan semakin terkenal dengan munculnya kisah Perjalanan ke Barat.Bunga teratai yang dianggap berasal dari India merupakan singgasana bagi Dewa Brahma. Teratai juga merupakan bunga suci yang dibawa oleh Dewa Wisnu. “Om mani Padma Hum,” demikian doa dalam bahasa Sansekerta yang sering diucapkan oleh para Lama, “semoga jiwa kita seperti tetesan air yang berada di ujung daun teratai sebelum jatuh pada danau kedamaian abadi—sebelum moksa menuju nirwana. Seiring dengan masuknya ajaran Buddha ke Tiongkok, teratai pun menjadi ikon dan simbol yang menjadi bagian dalam kebudayaan masyarakat Tiongkok, baik di Tiongkok daratan maupun di perantauan. 

Nama Kian muncul dalan sejarah Kerajaan Ryukyu (sekarang Okinawa Jepang). Ketika itu kerajaan Ryukyu adalah sebuah kerajaan independen dan tidak dibawah kekaisaran Jepang. Meskipun Shogun Tokugawa berkali-kali menyerang Kerajaan Ryukyu, masih tidak dapat menganeksasi kerajaan ini. Barulah ketika Kaisar Meiji berkuasa di Jepang, Kerajaan Ryukyu jatuh ke Kekaisaran Jepang. Terjadi beberapakali misi diplomatik perundingan dari Kerajaan Ryukyu ke Edo (Tokyo sekarang). Tersebutlah seorang duta Kerajaan Ryukyu yang biasa berhubungan dengan penguasa negeri asing adalah ‘Kian Nyūdō Bangen’. Dia dikenal ‘master teh’ dalam etika negosiasi minum fengan teh. Dia juga terkenal karena buku hariannya, Kian Nikki, yang mencatat Invasi Ryukyu 1609. Kerajaan Ryukyu baru bergabung dengan Jepang secara resmi dianeksasi oleh Jepang pada tahun 1879 sebagai Prefektur Okinawa.

Apakah misi diplomatik Kian Nyūdō Bangen pernah ke Kerajaan Pajajaran? Mungkin saja. Kian Nyūdō Bangen membuat diary berjudul ‘Kian Nikki’ dari tahun 1566-1653 M. Sementara Kerajaan Pajajaran baru runtuh 1579 M. Bisa jadi Kian Nyūdō Bangen pernah berkunjung ke Pajajaran dalam misi diplomatik perdagangan antar bangsa. Namun demikian, tidak ada catatan dalam negeri mengenai orang-orang dari Kerajaan Ryukyu di pulau Jawa khusus Pajajaran. Juga tidak ditemukan apakah istilah ‘Kian’ ini berkonotasi ‘seorang duta’ bagi warga Sunda? Bila demikian, wajar dalam kisah Kian Santang dalam ‘Wawacan keyan Santang’ digambarkan sebagai seorang duta utusan langsung Rasulullah untuk meng-Islam-kan tanah Jawa.

0 Komentar