Meskipun Dyah dapat disetarakan dengan ‘yang berlalu’ atau “almarhumah di…”, tidak serta merta menunjukkan secara pasti lokasi makam. Berbeda halnya dalam naskah Sunda kuno menyebut “Lumahing…” yang artinya “dikebumikan di…”. Istilah Sang Lumahing atau Sang Mokta ing… lebih pasti keberadaan lokasi pemakaman sang tokoh. Berbeda dengan Dyah. Bisa jadi sang tokoh menghembuskan nafasnya (wafat) di lokasi yang disebutkan seperti “Dyah Subang Larang”. Dalam konteks ini, berdasarkan penelitian tim dari Kabupaten Subang, berkeyakinan bahwa situs Makam Subang Larang terkait Sejarah. Kini situs ini berstatus sebagai Cagar Budaya. Kini ada pula sebutan nama beliau sebagai Dewi Kumalawangi.
Ada contoh lain yaitu Putri Raja Sunda Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat, yaitu Putri Citraresmi Dyah Pitaloka. Dalam bahasa Jawa Kuno kata dyah menunjukkan penghormatan, kata pithaloka berarti dunia nenek moyang, dunia para leluhur (Zoetmulder 1982, II: 1371), artinya memang putri tersebut telah tiada, lalu kata citra berarti perwujudan cemerlang (Zoetmulder 1982, I: 330), dan rasmi berarti keindahan yang cemerlang, sinar cahaya cemerlang (Zoetmulder 1982, II: 1518). Dengan demikian Citrarasmi dapat diartikan sebagai “cahaya yang cemerlang”, “cahaya yang indah menyenangkan”. Singkatnya kita dapat menyusun kalimat: Putri Citraresmi yang berlalu di Pitaloka (Putri cemerlang telah berlalu di Swargaloka). Namun, istilah dyah ini tidak menunjukkan dimanakah Citraresmi dimakamkan atau diperabukan. Zoetmulder berkesimpulan Citraresmi diperabukan di Citra Wulan atau Trawulan (Trowulan).
Beberapa kutipan yang diambil oleh Wibowo dari pendapat para peneliti terdahulu, dapat ditafsirkan bahwa nama Trowulan tersebut telah dikenal sejak abad ke-16 M. Mengacu kepada Serat Kanda yang digubah dalam abad sekitar awal abad ke-16 (Poerbatjaraka 1957: 95—96), memberitakan bahwa nama asli dari Trowulan adalah Citra Wulan yang kemudian diucapkan secara singkat menjadi Trawulan atau Trowulan sampai sekarang.
Baca Juga:Teka-Teki Pulau Jawa Versi MarcopoloSebelum Hand Sanitizer Ngetren, Sudah Ada Sejak Sriwijaya hingga Air Padasan di Tanah Jawa
Jika Zoetmulder mengartikan ‘Dyah’ sebagai ‘yang telah berlalu’ kemudian setara dengan almarhum/almarhumah? Penulis berpendapat lain bahwa ‘Dyah’ berasal dari bahasa Sansekerta ‘vedya’ yang berubah menjadi ‘dyah; dya; dyam’, artinya:
