CARUBAN NAGARI-Nyai Subang Larang adalah istri Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Dewaprana, Raja Kerajaan Pajajaran. Nyai Subang Larang melahirkan 3 orang anak yang kelak menjadi para penguasa di Cirebon.
Kisah hidup Subang Larang telah banyak dibahas diberbagai sumber media. Baik media mainstream, blog maupun video-video youtube. Lalu dimanakah makam Nyai Subang Larang?
Kini ada Situs “Nyai Subang Larang di Subang” yang sering juga disebut-sebut sebagai “Makam Nyai Subang Larang”. Lokasinya di Kawasan Teluk Agung yang terletak di Desa Nanggerang Kecamatan Binong Kabupaten Subang kawasan yang juga dikenal Astana Panjang atau Muara Jati ini merupakan saksi sejarah riwayat perjalanan hidup seorang tokoh legendaris wanita tatar Pasundan (kini Jawa Barat—red) pada sekitar abad 16-17 masehi yang juga merupakan istri Prabu Siliwangi, yakni Nyai Subang Larang.
Baca Juga:Teka-Teki Pulau Jawa Versi MarcopoloSebelum Hand Sanitizer Ngetren, Sudah Ada Sejak Sriwijaya hingga Air Padasan di Tanah Jawa
Mengutip naskah “Cariosan Prabu Siliwangi” yang ditulis dengan bahasa Jawa Cerbonan dan aksara Carakan pada tahun 1435 M di atas daluwang (kertas kulit kayu), menyebutkan nama Nhay (Nyai) Mrajalarangtapa Dyah Subang Larang.
Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN), Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum. Nyai Subang Larang lahir pada 1404 M dan wafat tahun 1441 (menurut situs kotasubang.com). Sementara ada kisah lain menyebutkan Subang Larang wafat pada usia 40 tahun. Dengan demikian mestinya ia wafat pada tahun 1444.
Penyebutan nama Dyah Subang Larang jarang dan bahkan tidak pernah kita dengar. Dalam Naskah Cariosan Prabu Siliwangi yang ditulis tahun 1435, yaitu di zaman Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja) masih hidup bahkan masih dikenal dengan nama Pamanahrasa, tidak menyebut Subang Larang. Pada tahun 1435 itu, Pamanahrasa menyebut Subang Larang adalah Nyai Mrajalarangtapa putri Ki Gede ing Tapa (Ki Gedeng Tapa) seorang Mangkubumi Kerajaan Singapura Cirebon. Penyebutan Subang Larang ada pada Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari (disingkat CPCN) merupakan karya Pangeran Arya Cerbon pada tahun 1720.Mengapa dalam teks naskah yang lebih tua tidak menyebut Subang Larang? Kita lihat penyebutan dalam salinan Naskah Cariosan Prabu Siliwangi tahun 1675 yang kini disimpan di Museum Geusan Ulun Sumedang. Pada naskah salinan menyebutkan “Nyai Mrajalarangtapa Dyah Subang Larang”. Munculnya kata Dyah pada naskah belakangan memiliki maksud yang kira-kira setara dengan almarhum/almarhumah. Jadi dapat kita simpulkan dalam kalimat: Nyari Mrajalarangtapa yang almahumah di Subang Larang. Nah… dari sinilah kita dapat mengerti dan paham mengenai keberadaan makam Nyai Subang Larang di Kabupaten Subang.
