Namun pada abad 8 M, Indraprahasta yang saat itu dipimpin Prabu Wiratara (719 M-123 M) dilululuhlantakkan Sanjaya yang membalas dendam karena Indraprahasta telah membantu Purbasora menggulingkan tahta ayahnya, Sang Sena penguasa Galuh.
Indraprahasta membantu Purbasora karena adik Prabu Wiratara yang bernama Citrakirana menikah dengan Purbasora (putra Sempakwaja). Setelah Indraprahasta hancur maka tahun 719 M Sanjaya mengangkat menantu Padmahariwangsa, yaitu Adipati Kusala, Raja Wanagiri (719-727) untuk berkuasa di bekas tanah Indraprahasta.
‘Sirna ing bumi Indraprahasta’ ditulis dalam Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara III/2 :“Ikang rajya Indraprahasta wus sirna dening Rahyang Sanjaya mapan kasoran yuddha nira. Rajya Indraprahasta kebehan nirakaprajaya sapinasuk kadatwan syuhdrawa pinaka tan hana rajya manih i mandala Carbon Ghirang. Wadyanbala, sang pameget, nanawidhakara janapada, manguri, sang pinadika, meh sakweh ira pejah nirawaceca. Kawalya pirang siki lumayu humot ring wana, giri, iwah, luputa sakeng satrwikang tanhana karunya budhi pinaka satwakura.‘
Baca Juga:Langkah Hukum Trah Keluarga Besar Kasepuhan Terkait Pernyataan Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Dedi SetiadiGustave, Buaya Raksasa Pemakan Manusia di Sungai Rusizi, Panjang 6,1 Meter
Artinya : Kerajaan Indraprahasta itu telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta ditundukan termasuk keratonnya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas kasihan seperti binatang buas.
Bukti primer seperti prasasti yang menegaskan keberadaan kerajaan Indraprahasta memang belum ditemukan, mengingat dari keterangan naskah diatas jejak peradaban Indraprahasta seperti bangunan keratonnya dihancurkan, seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang.
Sumber sekunder yang menjadi rujukan mengenai kerajaan tersebut diantaranya didapat dari Naskah Wangsakerta. Namun tak bisa diabaikan bahwa sumber-sumber lain seperti toponimi, sungai, desa dan adat tradisi di kawasan bekas kekuasaan Indraprahasta masih bisa ditemui. Seperti nama Cimandung dan Gunung Cangak yang sejak awal sudah dikenal semasa Maharesi Sentanu.
Terlepas dari polemik dimana letah pasti dari pusat pemerintahan Kerajaan Indraprahasta berada, kawasan Cirebon Girang ini kaya dengan sejarah-sejarah masa lalu. (*)
