Runtuhnya Mandala Indraprahasta Tanpa Bekas

1661766 622938564455299 3969880052389986789 n
Kabuyutan Krapyak dan sumur kuno di Sarwadadi diduga peninggalan Wanagiri atau bahkan Indraprahasta.
0 Komentar

MANDALA Indraprahasta adalah tempat suci Sunda atau sering juga disebut kabuyutan yang berada di Cirebon Girang di lereng gunung Ciremai atau Gunung Indrakila.

Selanjutnya kemandalaan Indraprahasta ini berkembang menjadi kerajaan. Nama Mandala atau kerajaan Indraprahasta ini mirip dengan nama kerajaan yang berada di India. Mandala ini termasuk dalam daftar Kabuyutan atau Kemandalaan di Tatar Pasundan.

Mandala adalah istilah yang berkaitan dengan Agama Hindu. Istilah ini muncul dalam Rig Veda sebagai nama bagian-bagian karya, tetapi juga digunakan dalam agama-agama India lainnya, khususnya agama Buddha.

Baca Juga:Langkah Hukum Trah Keluarga Besar Kasepuhan Terkait Pernyataan Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Dedi SetiadiGustave, Buaya Raksasa Pemakan Manusia di Sungai Rusizi, Panjang 6,1 Meter

Pendeta Hindu bermadzhab Batara Wisnu Maharesi Santanu Murti ini, memimpin nagari Indraprahasta dari tahun 285 – 320 saka atau 363 – 398 M dengan gelar Praburesi Indraswara Salakakretabuwana, dan menikah dengan putri Prabu Darmawirya Dewawarman VIII yang bernama Dewi Indari.

Wilayah Indraprahasta kala itu kini meliputi Desa Sarwadadi Kecamatan Sumber (sebagai pusat pemerintahan), Cimandung di Desa Krandon Kecamatan Talun dan Desa Cirebon Girang.

Wilayah Kecamatan Talun adalah daerah yang dialiri tiga hulu sungai, yaitu Sungai Grampak yang mengalir dari Desa Sarwadadi ke Desa Sampiran. Kemudian Sungai Suba yang mengalir dari Desa Patapan menuju Sampiran, serta Sungai Cirebon Girang yang mengalir dari Desa Cirebon Girang juga menuju ke Sampiran.

Kala itu duplikasi tempat-tempat di India diaplikasikan untuk menamai Gunung Cireme sebagai Indrakila, sungai yang melintasi wilayahnya diberi nama Gangganadi, termasuk memperdalam sungai yang kemudian diberi nama Setu Gangga.

Disanalah, Pendeta Syiwa Maharesi Santanu memimpin tradisi upacara mandi suci, reduplikasi itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian mengenang tanah kelahirannya, kawasan sungai Gangga, Kerajaan Calankayana, India.

Dalam naskah “Negara Kretabhumi’ sargah I parwa I” disebutkan ‚ sejak tahun 80 saka hingga 230 saka (308 M), banyak kelompok pendatang yang menumpang berbagai perahu dari negeri Bharata dan Bhenggali yang bermukim di Nusantara. Tiba dari daerah Gangga India.

Di antara mereka yang berasal dari negeri Bharata (India) terdapat Resi Waisnawa, mereka mengajarkan agamanya kepada penghulu masyarakat, tempat mereka bermukim, khususnya di Jawa Barat. Sedangkan Resi Syaiwa banyak yang bermukim di Jawa Timur.

0 Komentar