Ketika Prabhu Surawisesa Dikudeta 16 Ratu dan Raja

800px Kampung Baru
Lukisan Kampoeng Baroe Tahun 1770, Johannes Rach: Kisah penemuan bekas-bekas kerajaan oleh Scipio kemudian berlanjut dalam catatan Adolf Winkler (1690) dan Abraham van Riebeeck (1703, 1704, 1709) yang masing-masing membuat lebih banyak catatan penting tentang bekas-bekas Kerajaan Pajajaran. Sementara itu, temuan-temuan bekas Kerajaan Pajajaran dalam ekspedisi Scipio membuat Tanujiwa tertarik dan memutuskan untuk pindah serta menetap di Parung Angsana yang lalu dijadikannya Kampung Baru. Bersama pasukannya Tanujiwa kemudian juga mendirikan beberapa kampung lain, yaitu Parakan Panjang, Parung Kujang, Baranang Siang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Parung Banteng, dan Cimahpar. Pada 1912 F. De Haan dalam bukunya memulai daftar bupati Bogor (Kampung Baru) dengan Tanujiwa sebagai bupati pertama (1689-1705).
0 Komentar

Ketika Pakungwati Cirebon didatangi pengungsi dan pelarian pemberontak dari wilayah Kerajaan Pajajaran, Susuhunan Jati (Sunan Gunung Jati) seperti memberi isyarat sudah saatnya wilayah-wilayah kafir diserang oleh kesatuan muslim. Oleh karena itu, ia mengutus seseorang pergi ke Demak. Maksudnya memberitahu agar Sultan Demak merebut semua wilayah yang terletak di sepanjang pantai utara Jawa Kulon (Jawa bagian Barat). Selain itu, diberitahukan pula bahwa tidak lama lagi kesatuan bersenjata Portugis akan tiba untuk memberi bantuan kepada raja Pajajaran.

Setelah mendapat kabar dari Cirebon, kemudian Sultan Demak memerintahkan Panglima Fadhillah, adik iparnya untuk pergi ke Jawa bagian Barat guna menyelidiki wilayah-wilayah pantai utara Jawa bagian Barat. Fadillah disuruh menemui Pangeran Sabakingkin di Banten, yang sedang mengacau bersama para santrinya. Berangkatlah Sang Panglima Fadillah bersama pengiringnya ke Jawa Bagian barat. Mereka menyamar sebagai pedagang yang berkeliling kota, pedukuhan, bandar dan desa-desa. Selama berbulan-bulan Fadillah dan pengiringnya keluar masuk wilayah dibawah kekuasaan Pajajaran. Setelah itu, mereka kembali ke Demak dan singgah dahulu di Cirebon.

Panglima Fadhillah menyampaikan laporan tentang penyelidikannya di wilayah pantai utara Jawa Bagian Barat kepada Sultan Demak. Situasi wilayah-wilayah itu dipaparkannya secara rinci, juga pertemuannya dengan Pangeran Sabakingkin. Selanjutnya, Sultan Demak mengerahkan angkatan bersenjatanya ke Cirebon dan bergabung dengan angkatan bersenjata di sana. Tentu saja Cirebon pun pasukan bersenjatanya telah siap tempur.

Baca Juga:Sosok Ular Raksasa Berkepala Kerbau di Sungai Pemali Brebes

Pada tahun 1448 Saka (1526 Masehi), gabungan pasukan bersenjata Demak dan Cirebon berduyun-duyun menuju wilayah Banten. Gabungan pasukan bersenjata tersebut berjumlah 1967 orang di bawah pimpinan Panglima Besar Fadhillah dan beberapa orang panglima Demak lainnya. Dari kalangan angkatan bersenjata Cirebon yang diserahi tugas sebagai pemimpin yaitu Pangeran Cirebon, Dipati Keling dan Dipati Cangkuang.

Apa Beda Sunda Purba – Galuh Purba dan Definisi Jawa – Sunda | Sebuah Analisis Etimologis-GeografisKenapa Prabu Siliwangi Paling Diingat dan Terkenal di Tatar Pasundan? | Apa saja Jasa-jasanya?Pada saat itu situasi Banten sendiri sedang gawat. Penduduk sedang panik karena menghadapi kekacauan yang digerakkan oleh golongan muslim di bawah pimpinan Pangeran Sabakingkin, Putra Susuhunan Jati Cirebon. Keadaan kian bertambah kacau, setelah pasukan Panglima Fadhillah datang menyerbu. Pangeran Sabakingkin dan anak buahnya menyerbu kesatuan bersenjata Banten yang dianggap kafir. Perang berkecamuk dengan hebatnya. Warga masyarakat Banten kian terdesak dan banyak yang melarikan diri. Begitu pula Adipati Banten Sang Arya Surajaya (Kakak Nyai Kawunganten) dengan kaum kerabatnya mengungsi ke Ibukota Pakuan Pajajaran. Maka sejak saat itu kekuasaan Adhipati Surajaya sebagai penguasa Banten berakhirm setelah berkuasa sejak tahun 1441 Saka (1519 Masehi).

0 Komentar