Wilayah Banten telah dikuasai Pangeran Sabakingkin, namun perjuangan belum selesai. Begitulah kira-kira perasaan Sultan Demak dan Cirebon setelah pasukan bersenjatanya berhasil mengalahkan Banten. Mereka kemudia menghimpun kekuatan dan menyusun taktik lagi untuk melakukan penyerbuan ke wilayah Sunda Kalapa. Pada tahun 1449 Saka (1527 Masehi) pasukan muslim yang terdiri atas 1452 orang prajurit menyerang Sunda Kalapa. Pecahlah pertempuran di darat dan di laut dengan dahsyatnya. Pihak Sunda Kalapa kewalahan menghadapi pasukan lawan yang begitu banyak dan terampil berperang. Pasukan Sunda Kalapa yang jumlahnya sedikit itu kian lama kian terdesak dan banyak korban dari prajurit Sunda Kalapa. Prajurit lainnya diantara meraka melarikan diri ke hutan dan ke Pakuan.
Saat itu, Adhipati Sunda Kalapa Sang Surakerta bersama permaisuri, keluarga dan pengirinya gugur tak bersisa. Sejak itu, Arya Surakerta dijuluki Sang Lumahing Kalapa. Surakerta berkuasa di Sunda Kalapa sejak tahun 1443 Saka (1521 Masehi).
Akhirnya perang pun usai, Sunda Kalapa jatuh ke tangan pihak muslim. Kemudian Susuhunan Jati mengangkat Panglima Besar Fadhillah menjadi Bupati Sunda Kalapa. Namun belum lama setelah Fadhillah menjadi bupati, mendaratlah pasukan Portugis di Sunda Kalapa. Pasukan Portugis tidak mengira bahwa Sunda Kalapa telah diduduki oleh pasukan muslimin. Selanjutnya perang pun berkobar tak terhindarkan lagi. Akhirnya pihak Portugis terdesak dan segera kembali naik kapal dan kemudian kembali ke Pasai.
Baca Juga:Sosok Ular Raksasa Berkepala Kerbau di Sungai Pemali Brebes
Ibarat membakar hutan di musim kemarau, dalam waktu singkat tak seberapa lama akan musnahlah hutan itu dilahap api. Seperti itulah kira-kira pengalaman angkatan bersenjata muslim dalam menundukkan ratu-ratu wilayah non-muslim. Dalam waktu tidak lama, telah banyak ratu wilayah takluk kepada mereka/ Hal ini membuat permusuhan kian meruncing antara Raja Pajajaran dengan Susuhunan Jati kian meruncing.
Rupanya Raja Pajajran Prabhu Surawisesa dengan Susuhunan Jati menyadari bahwa permusuhan tidak bermanfaat bagi keduanya. Korban nyawa telah banyak berjatuhan. Menurut kesaksian Portugis, banyak Janda para tentara yang tewas melarikan diri ke hutan dan memilih belapati mengakhiri hidupnya atau bertapa hingga meninggal daripada menjadi tawanan perang. Pada tanggal 14 Paro-terang bulan Asadha tahun 1453 Saka (29 Juni 1531 Masehi), Kerajaan Pajajaran dan Cirebon mengadakan perjanjian tidak bermusuhan. Kedua belah pihak mengakui bahwa sebenarnya di antara mereka masih merupakan keluarga sedarah. Adapun bunyi perjanjian itu adalah:
