CARUBAN NAGARI-Kekuasaan Sri Baduga Maharaja berakhir pada tahun 1443 Saka (1521/1522 Masehi). Pada tahun itu Sri Baduga wafat. Ia kemudian digantikan oleh putra Sulung dari Permaisurinya Sakyan Kentring Manik Mayang Sunda (Dewi Mayangsunda) yaitu Sang Surawisesa. Sebelumnya Surawisesa menjabat sebagai Adipati Sunda Kalapa bergelar Ratu Sanghyang Surawisesa Jayengrana atau Surawisesa Jayaperkosa.
Selama pemerintahan Surawisesa, terdapat 16 kerajaan bawahan yang memberontak terhadap Kerajaan Sunda atau Pajajaran. Dengan berani mereka melawan Prabhu Surawisesa. Ked 16 ratu atau raja wilayah dimaksud adalah:
- Kyai Arya Baroh dari Kalapa Dalem atau Kalapa Kulon.
- Kyai Wudhubasuraga dari Tanjung.
- Nyai Ngajirasa dari Ancol.
- Adhipati Suranggana dari Wahanten Girang.
- Sang Arya Suraprasa dari Simpang.
- Arya Pulunggana dari Gunung Batu.
- Ratu Hyang Banaspati dari Saung Agung.
- Arya Sukara dari Rumbut.
- Tumenggung Linggageni dari Gunung Ageung.
- Sang Adhipati Patala dari Padang
- Prabhu Yasanagara dari Pagawok.
- Sang Arya Wirasakti dari Muntur
- Arya Senapati Bhimajaya dari Hanum.
- Sang Arya Wulunggada dari Pagerwesi.
- Pradharmaya dari Medhang Kahyangan
- Sang Prabhu Walahar dari Gunung Banjar.
Prabhu Surawisesa sendiri tidak merasa gentar sedikit pun menghadapi pemberontakan para ratu wilayah itu, karena sangan percaya diri dari kekuatan kesatuan bersenjata Kerajaan Sunda (Pajajaran). Para ratu yang memberontak tersebut telah menganut Agama Islam. Kemudian Prabhu Surawisesa mengumpulkan ratu-ratu wilayah yang masih setia kepadanya, guna menghimpun kekuatan dan merapatkan barisan membela Pajajaran.
Baca Juga:Sosok Ular Raksasa Berkepala Kerbau di Sungai Pemali Brebes
Pada pertengahan tahun 1444 Saka (1522 Masehi), Prabhu Surawisesa dengan kekuatan bersenjatanya mulai melakukan penyerangan terhadap ratu-ratu wilayah yang memberontak. Satu demi satu ratu-ratu wilayah itu diserang dan ditundukannya. Perang saudara di Bhumi Jawa Kulon itu berlangsung selama tiga tahun. Akhirnya pihak Pajajaran memperoleh kemenangan dan ke 16 ratu wilayah yang memberontak itu dapat ditundukkan. Tidak sedikit pula pihak pemberontak melarikan diri ke Pakungwati, Cirebon. Angkatan bersenjata Pajajaran tidak berani mengejar ke Cirebon, karena Cirebon dilindungi oleh kesatuan bersenjata Kerajaan Demak.
Pada saat itu yang menjadi penguasa di Kerajaan Cirebon adalah Syarif Hidayat, cucu Sri Baduga Maharaja dari istrinya yang ketiga, Nyai Subanglarang. Syarif Hidayat disebut juga Makdum Jati atau Susuhunan Jati Cirebon. Disamping menjadi raja, ia pun menjadi guru agama Islam dan menjadi salah seorang wali diantara sembilan wali (Wali Songo) di Pulau Jawa.
