- Mereka tidak saling menyerang
- Mereka akan Silih Asih (saling mnyayangi)
- Mereka akan saling membantu
- Tali kekerabatan tidak akan putus.
Dua tahun setelah perjanjian damai ditandatangani, di Kerajaan Pajajaran sibuk mempersiapkan sesuatu. Segenap aparat tidak ada yang bertumpang kaki, semua sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Ternyata Prabhu Surawisesa sedang menyelenggarakan upacara Sradha, yaitu upacara memperingati wafatnya Sri Baduga Maharaja. Upacara itu berlangsung tepat pada tanggal 7 paro-gelap bulan Bhadrawada tahun 1455 Saka (14 September 1533 Masehi). Salah satu acara dalam upacara itu adalah pembuatan ‘Sasakala’ tanda peringatan atau prasasti yang kelah dikenal sebagai “Prasasti Batu Tulis Bogor”. Upacara srada yakni wujud “penyempurnaan sukma”, yang diadakan setelah 12 tahun seorang raja wafat.
Dua tahun kemudian setelah upacara Sradha dilakukan, yaitu pada tahun 1457 Saka (1535 Masehi), awan muram di langi Bhumi Pakuan Pajajaran. Raja Pajajaran Prabhu Surawisesa tutup usia setelah berkuasa selama 14 tahun. Selanjutnya takhta diteruskan oleh putranya Ratu Dewata. Barangkali nama Ratu Dewata teringat kebesaran nama ayahanda Surawisesa yaitu Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja atau Prabhu Siliwangi.
Pasca wafatnya Surawisesa, perjanjian damai dilanggar. Peperangan demi peperangan pun terjadi lagi. Kekuatan Pajajaran dan wilayahnya kian surut. Akhirnya kerajaan ini runtuh karena serangan Kerajaan Banten pada tahun 1579 M.
Baca Juga:Sosok Ular Raksasa Berkepala Kerbau di Sungai Pemali Brebes
Sumber: Buku “Carita Parahiyangan Karya Pangeran Wangsakerta: Ringkasan, Konteks Sejarah dan peta” karya Abdurrahman, Etti R.S., Edi S. Ekadjati. Cetakan 1. Jakarta: Yayasan Pembangunan Jawa Barat, 1991 (*)
