Mandala Cirebon Larang Cikal Bakal Kerajaan Pasambangan

Cirebon Larang orginal sketch
Sketsa Candi tepi Laut di India Lokasi yang sama di Mandala Cirebon Larang
0 Komentar

Dukuh Pesambangan adalah dukuh yang mengawali lahirnya pemukiman di Cirebon, kemudian dibuka pedukuhan baru dikenal dengan nama Lemah Wungkuk (Kebon Pesisir).

Pada masa Pangeran Cakrabuana/Walangsungsang menjabat Kuwu Cerbon ke II, Ibukota Caruban Larang yang tadinya di Pesambangan dipindah ke daerah Caruban (Kebon Pesisir) yang kemudian disebut Sarumban/Caruban, Carbon, Cerbon, Crebon, kemudian Cirebon (Sulendraningrat, 1978. Hal. 17-18).

Cirebon pada awalnya adalah sebuah daerah yang bernama Tegal Alang-alangy ang kemudian disebut Lemah Wungkuk dan setelah dibangun oleh Pangeran Walangsungsang diubah namanya menjadi Caruban (Zuhdi, 1997. Hal 9).

Baca Juga:Tradisi Rebo Wekasan, Sunan Kalijaga Mandi di Sungai Drajat Saat Berguru dengan Sunan Gunung JatiJarang Disebutkan, Pajajaran Punya 5 Istana: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati

Nama Caruban sendiri terbentuk karena diwilayah Cirebon dihuni oleh beragam masyarakat.

Sebutan lain Cirebon adalah Caruban Larang. Pada perkembangannya Caruban berubah menjadi Cirebon karena kebiasaan masyarakatnya sebagai nelayan yang membuat terasi udang dan petis, masakan berbahan dasar air rebusan udang (cai rebon) (Sulendraningrat, 1972, Hal. 14).

Menurut Kitab Purwaka Caruban Nagari, Cirebon dulunya bernama Dukuh Caruban. Dukuh Caruban adalah dukuh yang dibangun oleh putra mahkota Pajajaran, Pangeran Cakrabuana/Raden Walangsungsang yang dibantu oleh adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Indang Geulis. Pangeran Cakrabuana membuka pedukuhan atas perintah gurunya, Syekh Nurul Jati/Syekh Datuk Kahfi (Sulendraningrat, 1972, Hal. 11-12).

Referensi

  1. P. S. Sulendraningrat, Sejarah Cirebon. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. Hal. 16.
  2. Bochari, M. Sanggupri dan Wiwi Kuswiah, Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. (Jakarta: CV. Suko Rejo Bersinar, 2001), hlm. 5.
  3. Adeng, dkk, Kota Dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra. Jakarta: CV. Eka Darma, 1998. Hal. 71
  4. Bochari, M. Sanggupri  dan Wiwi Kuswiah, Sejarah Kerajaan Tradisional Cirebon. Jakarta: CV. Suko Rejo Bersinar, 2001. Hal. 5.
  5. Sulendraningrat, P. S., Sejarah Cirebon. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. Hal. 16
  6. Sulendraningrat, P. S., Sejarah Cirebon. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. Hal-17-18.
  7. Zuhdi, Susanto, Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra (Kumpulan Makalah Diskusi Ilmiah). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997. Hal 9.
  8. Aria Carbon, Purwaka Caruban Nagari, terj. P. S. Sulendraningrat, Jakarta: Bhratara, 1972, Hal. 14
  9. Aria Carbon, Purwaka Caruban Nagari, terj. P. S. Sulendraningrat, Jakarta: Bhratara, 1972, Hal. 11-12
0 Komentar