CARUBAN NAGARI-Mandala Cirebon Larang adalah cikal bakal Kerajaan Cirebon Larang atau Kerajaan Pasambangan dan selanjutnya menjadi Kesultanan Cirebon.
Lokasi Manadala Cirebon Larang ini berada di Muara Jati Cirebon. Pesisir utara Kota Cirebon sekarang.
Umumnya sebagai Mandala, Cirebon larang adalah daerah perdikan atau pusat pendidikan pra Islam di bawah Kerajaan Galuh Pakuan pajajaran.
Baca Juga:Tradisi Rebo Wekasan, Sunan Kalijaga Mandi di Sungai Drajat Saat Berguru dengan Sunan Gunung JatiJarang Disebutkan, Pajajaran Punya 5 Istana: Bima, Punta, Narayana, Madura, dan Suradipati
Sebelum Pajajaran berdiri di Bogor sekarang, daerah ini berada di bawah pemerintahan Kerajaan Galuh, Ciamis sekarang.
Awal mula berdirinya Manda Cirebonlarang tidak diketahui secara persis. Keberadaannya bersamaan dengan tumbuhnya pemukiman atau pakuwuan Cirebonlarang.
Pada tahun 1302 AJ (Anno Jawa)/1389 M, dipantai Pulau Jawa yang sekarang disebut Cirebon, ada tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran yang diketuai oleh Mangkubumi yaitu Singhapura, Pesambangan, dan Japura.
Pasambangan ini yang dikenali sebagai Cirebonlarang (Sulendraningrat, 1978. Hal. 16).
Asal-usul Mandala Cirebon Larang
Seharusnya Mandala Cirebonlarang dipimpin oleh seorang Guru Resi atau dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian disebut Gulu Loka.
Namun kesejarahan pimpinan Mandala ini telah hilang atau tidak diketahui. Sejarah Cirebon hanya mencata Ki Gedeng Tapa atau Ki Jumanjang Jati, seorang juru labuan sebagai pemimpin pemukiman Cirebonlarang.
Informasi dalam Cerita Purwaka Caruban Nagari hanya mengisahkan heroisme masa penyebaran Islam di Cirebon, sehingga masa pra-Islam tidak diketahui.
Kondisi masyarakat dan kepemimpinan saat itu masih gelap. Meskipun demikian, temuan artefak Kubur Batu (Dolmen) pra-sejarah dapat menjadi acuan penelitian masyarakat Cirebon pra-Islam.
Baca Juga:Teka-Teki Prasasti Hulu Dayeuh di Cirebon, Mungkinkah Desa Ini Ibu Kota Pakuan Pajajaran?‘Nyusuk Na Pakwan’ Terukir di Prasasti Batu Tulis, Misteri Parit Pertahanan Pakuan Buatan Prabu Siliwangi
Kubur batu merupakan tradisi megalitik yang sudah sangat tua. Diduga tradisi ini sudah dilakukan sejak masa bercocok tanam pada masa prasejarah.
Akan tetapi, beberapa kubur batu menunjukan penanggalan yang lebih muda. Hal ini terutama diperkuat dari hasil temuan bekal kubur yang berasal dari zaman yang lebih awal.
Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa tradisi kubur batu telah berlangsung sejak masa prasejarah hingga masa setelahnya, bahkan dibeberapa tempat tradisi ini terus berlanjut pada masa kerajaan kuna.
Kubur batu umumnya diletakan dengan orientasi timur-barat hal ini dipercaya sebagai bagian dari konsep religi dan sistem kepercayaan masyarakat pada masa itu. Kekuasaan alam seperti matahari dan juga bulan dianggap menjadi pedoman dalam hidup mereka.
