Anjawong Khodam Prabu Siliwangi, Apakah Anda Telah Mengetahuinya?

Naskah Cariosan Prabu Siliwangi
"Naskah Asli Cariosan Prabu Siliwangi" digitalisasi EFEO pada flip book maker.
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Sebagai sosok sejarah dan menjadi kebanggaan bangsa, Prabu Siliwangi juga tak luput dari kisah mitos dan legenda yang menyertainya.

Mitos dan legenda dikategorikan sebagai indeks atau tanda sebagai ciri historiografi tradisional.

Disisi lain terdengar seperti mitos dan tidak diterima akal sehat, padahal ada pengertian lain dari penceritaan itu. 

Baca Juga:Carita Ratu Pakuan, dari Soal Gunung Pertapaan Para Dewa Menitis Putri Pejabat Calon Istri Prabu Siliwangi hingga Putri Ngambetkasih Diperistri Ratu PakuanMbah Kuwu Sangkan, Pemilik Lima Nama Pecinta Hewan, Salah Satunya Kebo Dongkol Bule Karone

Bahwasanya ada anakronisme, memang demikianlah historiografi tradisional kita karena masa itu belum ada ilmu arkeologi dan setumpuk ilmu turunannya.

Harimau atau Maung dalam bahasa Sunda, punya posisi yang cukup mendalam bagi kesadaran orang Sunda.

Kita bisa menemukan maung menjadi nama tempat di kawasan Jawa Barat, seperti Cimaung dan Cimacan yang bisa ditemukan di beberapa daerah (Garut, Subang, Banjaran, Cianjur, dan lain-lain), lambang Kodam Siliwangi, sampai Persib—klub sepakbola kebanggaan warga Jawa Barat dan Sunda yang dijuluki Maung Bandung.Simbol maung yang melekat dalam alam pikiran masyarakat Sunda pada umumnya dikaitkan dengan legenda nga-hyang atau menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang ketika dikejar bala tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon.

Peristiwa ini mengisyaratkan mulai masuknya pengaruh Islam di tatar Sunda.

Data historiografi Prabu Siliwangi, Selain prasasti dan sumber naskah ada pula bukti mentifek (mentifact) sebagai historiografi tradisional.

Diantaranya adalah mitos atau legenda Prabu Siliwangi dan Maung atau Harimau Putih. Khadam adalah istilah bahasa Arab yang artinya pembantu. 

Khodam Harimau putih dalam pengertian ini adalah sosok ghaib yang menjaga atau mendampingi seseorang. 

Dalam pengertian lama di Pajajaran juga dalam mitologi Hindu, sosok ghaib seperti itu bisa berupa sura atau asura.

Baca Juga:Jejak Mbah Muqoyyim di Tuk KarangsuwungKuburan Massal Korban Tragedi 1965 Ditemukan di Blok Dongkol Cirebon

Dalam tradisi Veda dikenal Sura dan Asura; Sura termasuk golongan mahkluk suci yang dominan sifat baiknya yaitu para dewa, seperti; aditya, astavasu, para rsi surga, prajapati, gandarwa (artis kahyangan), vidyadara-vidyadari dan para pitra (roh leluhur).

Sedangkan Asura atau Paisaca-paisaci termasuk golongan mahkluk astral dominan jahat, seperti, Detya, Raksasa, dan lain sebagainya. Baik asura maupun sura sama-sama memuja Tuhan: Mahadewa, dewanya dewa.

0 Komentar