Sejak maklumat 3 November 1945 setelah proklamasi kemerdekaan, Bung Hatta memberi kesempatan kepada rakyat untuk mendirikan partai politik yang dulu ketika zaman penjajahan Jepang dianggap ilegal dan terlarang. Dengan keluarnya maklumat tersebut maka para tokoh nasionalis segera mendeklarasikan beberapa partai politik seperti Masyumi, Parkindo, PNI hingga PKI.
Maka pada tanggal 7 November 1945, Pasukan Djojobojo dan pemberontakan PKI yang dipimpin Mr. Mohammad Joesoeph muncul kepermukaan secara terang-terangan. Saat itu situasi politik Indonesia tidak stabil, karena terjadi pertentangan antara golongan moderat dengan golongan revolusioner mengenai cara untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. “Dari situlah muncul gerakan PKI untuk memanfaatkan situasi dengan menguasai kondisi sosial-politik”, tulis Saleh As’ad Djamhari yang diterbitkan oleh Pusjarah TNI dalam Komunisme di Indonesia: Perkembangan Gerakan dan Penghianatan Komunisme di Indonesia 1931-1948 (2009).
Lebih lanjut ia mengungkapkan, pada kesempatan tersebut orang-orang komunis dibawah pimpinan Joesoeph menyusun rencana pengambilan kekuasaan daerah. Mereka memilih Cirebon sebagai daerah sasarannya, dengan alasan bahwa ketika itu Joesoeph pernah tinggal di Cirebon dan bekerja sebagai pengacara. Dalam pekerjaanya itu ia memberikan janji-janji mengenai pembagian tanah kepada rakyat sehingga menimbulkan kesan membela rakyat. Dengan cara itu ia berharap dapat menarik dukungan massa guna melancarkan rencananya.
Baca Juga:Mohammad Joesoeph, Pengacara yang Dirikan PKI di CirebonBTNGC Kuningan Ungkap Kebakaran Hanguskan 138 Hektare Kawasan Hutan Gunung Ciremai
Selain alasan itu, Ahmad Mansyur Suryanegara dalam Api Sejarah 2 (2010), mengatakan upaya itu bertujuan untuk menggagalkan proklamasi 17 Agustus Agustus 1945 dan perundingan Linggajati pada November 1946. Sebab pada hakikatnya PKI saat itu menjadi kelompok oposisi. Menurut Tan Malaka Indonesia terlalu lemah mengahadapi Belanda lewat politik perundingan. Tan ingin agar Indonesia merdeka 100% lewat perjuangan bersenjata, sementara saat itu, pemerintah Republik menghindari pertumpuhan darah.
Meskipun begitu, untuk melaksanakan suatu pemberontakan, mereka menyadari bahwa PKI di Cirebon belum merasa kuat. Maka didatangkanlah Laskar Merah dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan dalih menghadiri konferensi agar tidak menimbulkan kecurigaan masyarakat. Saat itu para anggota Laskar Merah yang dipusatkan di Hotel Ribberink (kini bernama Grand Hotel Cirebon berlokasi di Jl. Siliwangi No. 98 Kota Cirebon), mereka mulai membuat kegaduhan seperti, memancing keributan, dan mengadakan pawai keliling kota.
