“Ðalam pawai itu mereka mengenakan topi putih yang diikat pita merah serta masing-masing membawa berbagai senjata sambil meneriakaan yel-yel Soviet. Mereka juga membawa bendera merah berlambang palu arit. Pawai tersebut tidak lain bertujuan untuk pamer kekuatan.” Dalam Konferensi yang dihadiri sekitar 3.000 orang, Joesoeph memberikan sambutannya dengan memberikan pujian terhadap Uni Soviet (Rusia) yang telah mendukung revolusi sosial di Indonesia di forum Dewan Keamanan PBB. Ini yang menimbulkan insiden dengan kelompok lain. Tulis Djamhari dalam Komunisme di Indonesia (2009).
Dengan rencana yang amat matang, sehingga insiden pun pecah. Pada 12 Februari 1946, berawal dari isu yang dilakukan PKI djojobojo bahwa Polisi dan tentara Indonesia telah melucuti anggota Laskar Merah yang datang dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur di Stasiun Cirebon. Sehingga Perwira Polisi Tentara Cirebon Letda. D. Sudarsono datang ke stasiun menemui seorang bintara jaga untuk memastikan kebenaran isu tersebut. Namun, sesampainya di stasiun. “Ia disambut dengan peluru, dikepung, dan beberapa anggota polisi Tentara ditawan hingga Letda. D. Sudarsono disandera”, tulis Soeranto Soetanto dalam Pemberontakan PKI Mr. Mohammad Joesoeph tahun 1946 di Cirebon (1981).
Inilah langkah awal Pasukan Djojobojo dan pemberontakan PKI dalam upaya menguasai jajaran pemerintahan setempat. Hingga seluruh kota dikuasai, tindakannya semakin merajalela, perampasan, merampok dan menguasai gedung-gedung vital seperti radio, dan Pelabuhan.
Baca Juga:Mohammad Joesoeph, Pengacara yang Dirikan PKI di CirebonBTNGC Kuningan Ungkap Kebakaran Hanguskan 138 Hektare Kawasan Hutan Gunung Ciremai
Untuk mengatasi aksi PKI yang semakin brutal, maka Panglima Divisi II Sunan Gunung Djati, Kolonel Zainal Asikin Yudadibrata mengirim utusan untuk membawa Residen dr. Moerjani dan kepala Karesidenan Sulaiman Jayusman ke Markas Divisi yang berkedudukan di Linggajati dengan tujuan melakukan perundingan dengan Mr. Mohammad Joesoeph di Hotel Reebrinck.
Dalam perundingan tersebut pihak PKI berjanji akan menyerahkan senjata-senjata yang dirampasnya kepada tentara pada esok harinya. Akan tetapi perjanjian itu tidak ditepati. Bahkan utusan yang datang di Hotel itu, keesokan harinya disambut dengan serentetan tembakan. “Dikarenakan perundingan mengalami kegagalan, maka Panglima Divisi II meminta bala bantuan pasukan dari Komandan Resimen Cikampek dan dikirim 600 prajurit dibawah pimpinan Mayor Banumahdi”, tulis Djamhari dalam Komunisme di Indonesia (2009).
