Prasasti Dinoyo memuat unsur penanggalan dalam candrasengkala berbunyi “nayana-vayurase” dan jika diuraikan berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi. Penafsiran ini memberikan petunjuk bahwa telah ada sebuah kerajaan yang berdiri di Dinoyo (Malang) pada abad ke-8 Masehi.
Isi Prasasti Dinoyo tentang peresmian bangunan suci bagi Arca Agastya yang dilaksanakan pada bulan Marggaśirsa tahun 682 Śaka (November, 760 Masehi). Prasasti Dinoyo juga mengungkapkan informasi penting terkait silsilah penguasa Kerajaan Kanjuruhan.
Isi Prasasti Dinoyo
Pengungkapan jejak Kerajaan Kanjuruhan tidak terlepas dari diketahuinya isi dari prasasti Dinoyo, yang ditemukan pada awal abad ke-20.
Baca Juga:OOTB untuk Mendongkrak Minat Literasi MasyarakatBocah Dianiaya Ibu Angkat di Cirebon Akhirnya Bertemu Usai Terpisah Selama 5 Tahun
Mengutip keterangan di situs Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu milik Kemendikbud, prasasti Dinoyo semula pecah menjadi 3 bagian dan ketiganya ditemukan di tempat terpisah dengan waktu penemuan yang berlainan.
Pecahan pertama berupa bagian tengah prasasti yang ditemukan pada tahun 1904 di Desa Dinoyo. Meski diberitakan ditemukan di Desa Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, tetapi prasasti tersebut kemungkinan besar ditemukan di Desa Merjoyo.
Selanjutnya, ditemukan pecahan kedua dan ketiga, berupa bagian atas serta bawah prasasti, pada tahun 1923, di Desa Merjosari. Tiga desa tersebut letaknya bersebelahan sehingga tidak terpaut jauh jaraknya.
W.J. van der Meulen berpendapat, meskipun prasasti Dinoyo memakai Bahasa Sansekerta, isinya menunjukkan adanya pengaruh Bahasa Jawa Kuno. Maka itu, pemahatan prasasti Dinoyo diyakini berlangsung saat awal mula penggunaan Bahasa Sanskerta dalam tradisi Bahasa Jawa Kuno.
Prasasti Dinoyo memuat unsur penanggalan dalam candrasengkala berbunyi “nayana-vayurase” dan jika diuraikan berangka tahun 682 Saka atau 760 Masehi. Penafsiran ini memberikan petunjuk bahwa telah ada sebuah kerajaan yang berdiri di Dinoyo (Malang) pada abad ke-8 Masehi.
Isi Prasasti Dinoyo tentang peresmian bangunan suci bagi Arca Agastya yang dilaksanakan pada bulan Marggaśirsa tahun 682 Śaka (November, 760 Masehi). Prasasti Dinoyo juga mengungkapkan informasi penting terkait silsilah penguasa Kerajaan Kanjuruhan.
Silsilah penguasa Kerajaan Kanjuruhan itu dimulai dari Devasiṃha yang memiliki putera bernama Limwa. Setelah diangkat menjadi raja Kanjuruhan menggantikan ayahnya, nama Limwa berganti menjadi Gajayana. Limwa memiliki puteri bernama Uttajana yang menikah dengan Jananiya.
