Melacak Kanjuruhan di Prasasti Dinoyo, Sumber Asal-Usul Leluhur Malang

prasasti dinoyo 11
Prasasti Dinoyo/Foto: Istimewa (dok.cagarbudaya.kemdikbud.go.id)
0 Komentar

Merujuk pada kajian Sri Soejatmi Satari dalam “Upacara Weda di Jawa Timur: Telaah Baru Prasasti Dinoyo” yang terbit melalui Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi (Volume 27, No 1 Tahun 2009: hlm. 38), ketika Prasasti Dinoyo ditulis, Raja Gajayana sebenarnya telah wafat.

Fakta ini terlihat dari keberadaan kata “smá¹›taḥ” di belakang nama Gajayana yang berarti: “seperti yang diingat orang.” Selain itu, upacara penggantian arca Agastya dari kayu cendana menjadi batu hitam serta pendirian bangunan, yang tercatat di prasasti Dinoyo, dilaksanakan oleh A-nanah yang merupakan anak Uttajana, alias cucu Gajayana.

Isi lengkap Prasasti Dinoyo dan terjemahannya bisa dilihat di link ini.

Sejarah Kanjuruhan

Baca Juga:OOTB untuk Mendongkrak Minat Literasi MasyarakatBocah Dianiaya Ibu Angkat di Cirebon Akhirnya Bertemu Usai Terpisah Selama 5 Tahun

Slamet Sujud dalam artikel bertajuk “Eksplorasi Nilai-Nilai Pendidikan Bangsa dari Sejarah Lokal Malang Mulai Zaman Prasejarah Sampai Masa Hindu-Budha Abad XI” yang terbit di Jurnal Sejarah dan Budaya UM (Volume 8, 2014: 88), menjelaskan bahwa sudah ada struktur sosial-politik yang mapan di kawasan Malang, Jawa Timur, pada abad ke-8 Masehi.

Pada saat itu, Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin seorang raja bernama Liswa atau Limwa dengan abhisekanama (gelar) Gajayana, telah memiliki sistem pemerintahan yang tertata, serta susunan masyarakat yang teratur seperti golongan petani, punggawa, dan bangsawan.

Sementara Rully Dwi dalam “Kajian Historis tentang Candi Badut di Kabupaten Malang” yang terbit di Jurnal Pancaran (Volume 2, 2013: 204-205), memberikan penafsirannya terkait dengan isi dari Prasasti Dinoyo.

Menurut dia, Kerajaan Kanjuruhan awalnya dipimpin oleh raja bernama Dewasimha. Sepeninggal Dewasimha kerajaan tersebut dipimpin oleh anaknya Liswa dengan gelar Gajayana.

Selanjutnya, sekitar 742 hingga 755 M sepeninggal Dewasimha, Liswa (Gajayana) memindahkan ibu kota Kanjuruhan dari sebelah barat Gunung Kelud ke sebelah timur Gunung Kawi.

Rully mengutip pendapat W. J. Van der Meulen, bahwa pemindahan ibu kota Kanjuruhan berkaitan dengan serangan angin ribut (Sanjaya) yang menampar dari arah barat.

Perpindahan itu juga disebut sebagai strategi terbaik Gajayana, karena letak geografis Kanjuruhan yang berada di wilayah tumapel yang dipagari barisan gunung.

Baca Juga:Komnas PA Jabar Dampingi Korban Pelecehan dan Kekerasan dari Oknum Polisi di CirebonKapolda Jawa Barat Temui Korban Kasus Pelecehan Anak yang Diduga Dilakukan Oknum Polisi dari Polres Cirebon, Irjen Pol Suntana Minta Maaf

Keruntuhan dari Kanjuruhan sebenarnya bukan disebabkan invasi dari kerajaan lain, melainkan karena munculnya sebuah kerajaan baru yang dipimpin oleh keturunan Raja Mataram Kuno, yakni Balitung, Daksa, Tulodong, dan Wawa.

0 Komentar