Uniknya, di Inggris, kebencian terhadap polisi muncul tidak hanya dari kelas pekerja. Joseph Grantham adalah polisi pertama dalam sejarah London yang tewas ditusuk warga. Di pengadilan, pembunuhnya hanya dikenai pasal ‘kekerasan yang menyebabkan kematian”, bukan pembunuhan. Para juri turut menunjukkan ketidaksukaan pada kepolisian London. Dalam bentrok di tahun yang sama antara serikat buruh dan polisi di ibu kota Inggris, tiga aparat ditusuk, satu tewas. Lagi-lagi, ada anggota juri pengadilan menyatakan “pembunuhan ini terjadi karena upaya membela diri.”menyatakan “pembunuhan ini terjadi karena upaya membela diri.”
Sayangnya, siapa pencetus akronim ACAB, sulit menemukan sosoknya. Kapan persisnya istilah ini muncul juga tak berhasil dilacak. Lexikografer Eric Partridge dalam bukunya A Dictionary of Catch Phrases menyatakan ACAB mulai populer dan menyebar ke berbagai negara di Abad 20. Penggunanya yang paling tua rata-rata kriminal dan anak jalanan, “tapi istilah ini sudah mereka kenal sejak satu generasi sebelumnya.”
Pemakaian ACAB secara tertulis ditemukan Partridge di lirik lagu rakyat Inggris yang muncul era 1920-an. Liriknya berbunyi semacam ini: “I’ll sing you a song, it’s not very long: all coppers are bastards.”
Baca Juga:Awal Mula Freemasonry di Cirebon Dimulai dari Loji TegalBabak Baru Kasus Perusakan Bekas Benteng Kartasura
Partridge bilang, kadang ACAB berubah variasi menjadi “[All those in authority] are bastards”, menggambarkan sasaran kemarahan penggunanya bukan cuma polisi tapi juga penguasa. “Khususnya terhadap semua elit-elit yang mementingkan tertib hukum di atas segala-galanya.”
https://youtu.be/ANb3l-jRfh0
Cuplikan lagu yang dimaksud bisa disimak lewat dokumenter We Are The Lambeth Boys, ketika ada adegan sekelompok buruh remaja dari atas truk menyanyikan ACAB nuntuk seorang polisi yang mereka lihat di jalan. Variasi lain dari istilah hinaan ini, “all coppers are ‘nanas’”, juga muncul di salah satu lagu David Bowie berjudul “Over The Wall We Go“.
Ada teori lain mengatakan ACAB mulai populer di masyarakat berkat gelombang pemogokan pekerja di seantero Inggris pada 1940-an, tapi ahli bahasa menduga ini cuma mitos. Sebagian lagi percaya ACAB massif dipakai di penjara-penjara Inggris, dituliskan oleh para tahanan di dinding.
