Ternyata Ini Makna dari Kode 1312 yang Terlihat di Pintu Maut Stadion Kanjuruhan

FeIDF5lVsAEC8e1
Apa arti 1.3.1.2 di pintu Stadion Kanjuruhan (Foto: twitter Jessica Washington)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Muncul banyak tulisan di dinding pintu 13 Stadion Kanjuruhan, pintu maut yang menewaskan banyak nyawa dalam tragedi Sabtu malam (1/10/2022). Salah satunya tertulis angka 1.3.1.2. Angka 1.3.1.2 ini sangat identik pula dengan akronim A.C.A.B. Sebab jika diurutkan sesuai abjad maka angka 1312 juga sama dengan ACAB.

Angka tersebut ditulis menggunakan cat hitam dan berada di bawah tulisan “Polisi jahat saudaraku kau bunuh”. Apa arti 1.3.1.2 di pintu maut Stadion Kanjuruhan ini?

Tulisan ini tampak di depan pintu 13 tepatnya di tiang beton. Pintu 13 merupakan lokasi ditemukan korban paling banyak Tragedi Kanjuruhan. Siapa sih pencetusnya? Kenapa bisa mengglobal untuk menggambarkan penolakan terhadap brutalitas polisi?

Baca Juga:Awal Mula Freemasonry di Cirebon Dimulai dari Loji TegalBabak Baru Kasus Perusakan Bekas Benteng Kartasura

Untuk menjawabnya, mari kita kembali ke istilah awal yang kurang populer, yakni yang menggunakan “coppers” alih-alih cops. Ada satu negara yang warganya masih memakai sebutan tersebut, yakni Inggris. Tidak mengejutkan memang, mengingat Inggris adalah negara pertama di era modern menciptakan sistem kepolisian. Polisi modern, sedikit berbeda dari tentara, adalah sipil yang dipersenjatai, diberi seragam, dan hidup dalam hierarki kepangkatan.

Pada Abad 19, ketika dimunculkan pemerintah Inggris, tugas aparat kepolisian adalah menghadapi warga sipil lainnya. Khususnya untuk menggebuki dan memadamkan unjuk rasa yang digelar petani miskin Irlandia karena kelaparan. Polisi juga diperintahkan mendisiplinkan para pekerja di kota besar seperti London dan Liverpool yang kondisi pabriknya buruk atau menganggur lalu keleleran di jalan.

Karena dirasa lahir untuk menertibkan aspirasi progresif, kelas pekerja Inggris di masa itu akhirnya mencetuskan akronim “all coppers are bastards”. Ketika konsep polisi menyebar ke negeri Eropa lain (dan jajahan mereka), kritik ACAB ikut diadopsi. Penduduk Prancis menerjemahkan ACAB menjadi “Tout le monde déteste la police”, yang secara harfiah artinya “semua orang benci polisi.”

Seburuk apa sih polisi? Bukankah di masa sekarang mereka lebih sering menilang pengendara badung dan membantu warga yang kemalingan atau jadi korban kejahatan? Di Indonesia, malah, surat keterangan polisi dibutuhkan untuk cari kerja.

Menurut Victoria Gagliardo-Silver, yang menulis esai mengenai sejarah kemunculan istilah ‘ACAB’ di surat kabar the Independent, menyatakan kebencian terhadap polisi itu harus dilihat akarnya. Di mata penduduk Inggris Abad 19, tidak ada polisi yang baik dan mengayomi masyarakat. Mereka lebih sering menghajar warga dibanding “mengamankan”. Menurut Gagliardo-Silver, sistem polisi bermasalah sejak awal, karena dilahirkan penguasa untuk mengadu sipil lawan sipil. Ingat, polisi tidak berperang, beda dari tentara. Satuan kepolisian modern juga senantiasa lebih mengutamakan perlindungan terhadap orang kaya atau elit suatu negara ketika terjadi kekacauan. “Makanya, ada pihak yang tidak bisa mempercayai pleidoi polisi buruk cuma oknum; satu pohon kesatuan ini sudah busuk luar dalam dan hanya menebarkan racun.”

0 Komentar