Ternyata Ini Makna dari Kode 1312 yang Terlihat di Pintu Maut Stadion Kanjuruhan

FeIDF5lVsAEC8e1
Apa arti 1.3.1.2 di pintu Stadion Kanjuruhan (Foto: twitter Jessica Washington)
0 Komentar

Kebangkitan kultur punk akhir 70’an jelas berjasa besar mempopulerkan ACAB ke kancah internasional. Pelakunya terutama musisi dan anggota kancah ‘Oi’. Band The 4 Skins dari London, pada 1982, merilis lagu berjudul “A.C.A.B”, yang membuat akronim tersebut makin terkenal di kalangan pendengar musik. ACAB juga jadi lagu band punk Jerman berideologi antifasis Slime. Dimulai oleh punk, ACAB pun lantas populer di genre lain, termasuk rap dan techno.

Ketika polisi makin ketat mengamankan pertandingan sepakbola, suporter Inggris ikut mengadopsi istilah ACAB. Penggunanya rata-rata hooligan yang juga berafiliasi dengan gerakan skinhead, populer pada dasawarsa 70’an.

Suporter di negara lain turut mengadopsi kebencian terhadap polisi tersebut, seperti dicatat penulis sepakbola James Montague di buku 1312 (kode numerik untuk ACAB). Nyaris semua ultras membenci polisi. Suporter Persija Jakarta yang tewas karena kekerasan polisi pada 2016, pernah menuliskan catatan “ACAB” di bukku hariannya. Meski begitu, dari temuan Montague, di internal Jakmania sendiri ada ketidaksetujuan mempopulerkan ACAB karena dianggap “terlalu Eropa.”

Baca Juga:Awal Mula Freemasonry di Cirebon Dimulai dari Loji TegalBabak Baru Kasus Perusakan Bekas Benteng Kartasura

Pemakaian slogan ACAB tentu saja tidak disukai polisi. Mana ada polisi bersedia dijuluki brengsek. Karenanya, di Eropa, tercatat makin banyak orang ditangkap karena mengenakan kaos bertuliskan ACAB. Meski demikian, Pengadilan di Jerman pernah menolak menghukum suporter yang ditahan karena menuliskan ACAB di celananya.

Perempuan di Spanyol juga pernah ditangkap polisi pada 2016, karena membawa tas belanjaan bertuliskan ACAB. Setelah diperiksa, ternyata dia menuliskan untuk akronim “All Cats Are Beautiful”. Tindakan polisi Spanyol memicu kritikan keras di media sosial.

ACAB kini bisa ditemui di manapun. Pengaruh slogan ini amat terasa, terutama ketika polisi kembali terlibat kekerasan brutal. Bermula dari jalanan London, ternyata frasa sederhana itu memiliki relevansi global yang tak lekang oleh waktu. (*)

0 Komentar