Setelah itu peziarah akan menemui ratusan makam dengan jalan setapak yang sudah beratap dan petunjuk arah menuju cungkup makam Sunan Bonang. Cungkup makam Sunan Bonang terletak di tanah yang lebih rendah. Terlihat sebuah tangga kecil dari batu dan sebuah pintu dari kayu jati menuju ke dalam Makam Sunan Bonang.
Para peziarah yang mendatangi Makam Sunan Bonang duduk bersila dan membaca bacaan seperti Surat Yasin dan Tahlil. Namun, peziarah juga bisa membaca wirid berupa surah Al-Fatihah 50 kali, surah Al-Ikhlas 50 kali, shalawat 300 kali. Bacaan ini merupakan wirid kesukaan Sunan Bonang semasa hidupnya.
Di sekitar area Makam Sunan Bonang terdapat bale-bale (pendopo paseban, pendopo rante, dan pendopo tajuk) peninggalan Sunan Bonang tatkala beliau melaksanakan pendidikan dan syiar agama. Bangunan pendopo itu bentuknya limas, umpak-umpak yang berwarna putih dan terbuat dari tulang ikan.
Baca Juga:Ada Suara Gamelan dan Sinden di Curug Pangeran Petilasan Kian SantangAnda Mendengar? Suara Lirih Diduga Muncul di Stadion Kanjuruhan
Adanya bangunan paseban, adanya ukiran-ukiran khas kesenangan Sunan Bonang yang indah dengan motif sulur-sulur daun dan hiasan tumpal, serta beberapa peninggalan purbakala seperti tempayan, yoni, pipisan dan peti batu yang tersimpan di pendopo rante.
Sunan Bonang melakukan penyebaran agama Islam dengan cara unik dan berbeda dengan sunan lainnya. Sunan Bonang merupakan salah satu sunan yang dikenal tidak hanya cerdik dan fleksibel dalam berdakwah, tetapi beliau juga dikenal memiliki karamah yang hebat menurut masyarakat Jawa.
Menurut KH Agus Sunyoto (Katib PBNU), dakwah Sunan Bonang disebuah daerah di Singkal, Nganjuk mengadakan upacara kenduri menandingi upacara agama Tantrayana dilakukan oleh petinggi-petinggi Majapahit dengan sekte yang disebut sebagai Bhairawa Tantrayana.
Agama Tantrayana adalah agama yang memuja dewi bumi, dewi pertiwi, dan durga, dewi sungai. Mereka jika beribadah dengan duduk melingkar di setra. Sebuah setra yang terbesar terdapat di Majapahit yang disebut dengan Setralaya, sekarang disebut dengan Troloyo.
Ritual dengan lingkaran itu disebut dengan upacara pancamakara atau lazim disebut sebagai Molimo (Mamsha artinya daging, Matsya artinya ikan, Madya artinya minuman keras, Maithuna berarti seksual, Mudra berarti semedi).
