Jadi dalam upacara tersebut lelaki perempuan dalam keadaan telanjang, di tengah lingkaran tersebut ada makanan yang terbuat dari daging, ikan dan minuman keras. Setelah selesai, kemudian mereka melakukan persetubuhan bersama. Setelah nafsu mereka terpenuhi, dalam keadaan tanpa nafsu mereka melakukan semedi.
Ketika mencapai level tertinggi Mamsha dari daging hewan diganti dengan daging manusia, Matsya dari ikan biasa diganti dengan ikan Suro, dan Madya dari minuman keras diganti dengan darah manusia. Salah satu pendeta Bhairawa Tantra yang terkenal adalah Adityawarman. Di Kediri, Jawa Timur pedalaman adalah penganut terbesar Bhairawa Tantra.
Melihat ritual tersebut, Sunan Bonang menandingi dengan membuat acara yang sama di daerah Singkal, Nganjuk, Jawa Timur. Di tempat tersebut, beliau mengadakan upacara serupa, membentuk lingkaran dan pesertanya semuanya laki-laki dan berdoa. Acara ritual itu disebut dengan kenduri atau selametan.
Baca Juga:Ada Suara Gamelan dan Sinden di Curug Pangeran Petilasan Kian SantangAnda Mendengar? Suara Lirih Diduga Muncul di Stadion Kanjuruhan
Acara ini kemudian berkembang dari satu kampung ke kampung lain. Karena telah berhasil memimpin ritual tersebut, maka Sunan Bonang mendapatkan gelar Sunan Wahdat Cakrawati, (pemimpin upacara berbentuk lingkaran). Gelar tersebut Sunan Wahdat Cakrawati atau Sunan Wahdat Anyakrawati diberikan karena menurut sejarah, Sunan Bonang tidak menikah.
Sunan Bonang ditunjuk sebagai imam pertama Masjid Demak, dan bergelar Imam Guru Suci. Keberhasilan dakwahnya dibantu dengan Sunan Kalijaga yang memberi warna lokal pada upacara keagamaan seperti Idul Fitri, perayaan Maulid Nabi, dan peringatan Tahun Baru Islam. Sunan Bonang berhasil menciptakan asimilasi budaya manusia yang lebih beradab dan tidak meninggalkan ciri asli budaya Jawa.
Upacara Sekaten dan Grebeg Maulid adalah warisan budaya yang diciptakan Sunan Bonang. Di dunia pewayangan, beberapa lakon carangan pewayangan telah digubah dengan kaidah Islam, seperti Petruk Dadi Ratu, Layang Kalimasada, Dewa Ruci, Pandu Pragola, Semar Mbarang Jantur, dan Mustakaweni.
Di dalam dunia kesusastraan, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair yang profilik, sekaligus penulis risalah estetika sufi yang dikenal dengan ilmu tasawuf. Dunia musik pun tak luput dari sentuhan beliau, gamelan Jawa digubah dengan memasukan instrumen baru seperti rebab Arab dan kempul Campa yang kemudian disebut bonang.
