Hal ini dijelaskan dalam Serat Jangka Syekh Subakir Pupuh II Sinom nomor 17, sebagai berikut:
“Kalau begitu mari cepat, menemui sang resi. Utusan Sri Raja Rum, yang menyuruh pergi semua hantu. Kemudian, Ki Semar bertanya kabar. Menanyakan niat apa kemari, sampai mengerikan, para hantu menjadi geger.”
Perjuangan Syaikh Subakir dalam melakukan penyebaran agama Islam yang banyak memberikan pencerahan dalam mengatasi kegelapan dan kemusyrikan pada masyarakat Jawa. Adapun Syaikh Subakir dalam hal ini, beliau juga memiliki keahlian dalam meruqyah. Digunakan sebagai metode penyembuhan dengan cara membacakan sesuatu kepada orang yang sakit, sengatan hewan, sihir, racun, kerasukan, gangguan jin, dan sebagainya.
Baca Juga:Kisah Sultan Al-Ghabbah: Kirim Ribuan Keluarga Muslim untuk Menghuni Pulau Jawa Berakhir Tragis hingga Mengutus Syekh Tambuh Aly bin Syekh BaqirSyarif Syam Berambut Panjang hingga Menyentuh Tanah Anak Angkat Ki Gede Karangkendal yang Jarang Disebutkan dalam Babad
Tujuan Syaikh Subakir dalam meruqyah tanah Jawa karena tanah Jawa merupakan tempat yang masih kosong untuk efektifitas syiar Islam. Meskipun dalam proses perkembangannya Islamisasi di Jawa ditempuh dengan jalan perkawinan antara pribumi dengan muslim pendatang yang melakukan transaksi dagang di pulau Jawa.
Berdasarkan hal tersebut maka Syaikh Subakir berperan besar dalam meruqyah kawasan-kawasan yang dijadikan basis syiar Islam di Jawa. Berkat keahliannya meruqyah tanah Jawa tersebut, ia mampu mengusir jin, peri, banaspati, ilu-ilu serta jerambang yang menghuni kawasan-kawasan angker. Hal ini dijelaskan dalam Serat Jangka Syekh Subakir Pupuh II Sinom nomor 1 yakni sebagai berikut:
“Awal-mula yang diceritakan, di saat kekosongan tanah Jawa, masih berupa hutan berbahaya, isinya hanya hantu, peri, dan jin, serta segala makhluk halus, seperti dewaraksasa dan banaspati, ilu-ilu serta jerambangan”.
Selain faktor perbedaan kepercayaan dengan tetua adat dan masyarakat pribumi, hal lain yang menjadi tantangan berat pada saat itu adalah membersihkan pengaruh magis yang memang masih kuat di tanah Jawa. Jin dan setan menempati setiap sudut tanah Jawa yang masih kosong.
Walaupun Syaikh Subakir mampu meredam amukan sekaligus dapat mengembangkan agama Islam di tanah Jawa, kodratullah masih berlaku.
Yaitu kepercayaan lama tidak bisa dihilangkan. Bagi seseorang yang imannya lemah, maka akan menyembah roh halus. Hal ini dijelaskan dalam Serat Jangka Syekh Subakir Pupuh II Sinom nomor 9 sebagai berikut:
