Di antara remaja Indonesia yang mengalami gangguan mental, 83,9%-nya mengalami gangguan fungsi pada ranah keluarga, disusul oleh ranah teman sebaya (62,1%), sekolah atau pekerjaan (58,1%), dan distres personal (46,0%).
Ada masalah mental lain mengintai
Selain itu, peneliti juga menemukan ada lebih banyak remaja di Indonesia yang sebenarnya mengalami beberapa gejala gangguan mental, tapi tidak cukup untuk dikatakan menderita gangguan mental sesuai kriteria DSM-5.
Survei I-NAMHS menunjukkan, hampir 35% atau sekitar 15,5 juta remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia terdiagnosis memiliki setidaknya satu masalah kesehatan jiwa sehingga masuk dalam Orang dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), artinya mereka rentan mengalami gangguan mental.
Baca Juga:Bosan Sate Kambing Coba Resep Kambing Bakar Zam-Zam, Sambalnya Bikin KangenApa Pentingnya Hari Tanpa Kutang?
Rasa kecemasan jadi masalah gangguan mental paling banyak muncul di antara remaja Indonesia (26,7%). Disusul oleh masalah terkait pemusatan perhatian atau hiperaktivitas (10,6%), depresi (5,3%), dan masalah perilaku (2,4%), serta stres pascatrauma (1,8%), di mana remaja laki-laki prevalensinya cenderung lebih tinggi dibanding perempuan.
“Kami juga menemukan remaja yang lebih muda (10-13 tahun) memiliki prevalensi masalah pemusatan perhatian dan/atau hiperaktivitas yang lebih tinggi dibandingkan remaja yang berusia lebih tua (14-17 tahun). Sebaliknya, remaja yang berusia lebih tua memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi dibandingkan remaja yang lebih muda,” papar Amirah.
Temuan ini jelas menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental dan gangguan mental di antara remaja Indonesia adalah hal yang umum terjadi.
Oleh karena itu, untuk menanggulanginya, peneliti menyarankan agar pemerintah Indonesia beserta pemangku kepentingan lain harus memprioritaskan program-program yang bertujuan untuk membantu remaja dalam mengelola rasa cemas.
Fakta bahwa sebagian besar dokter ahli jiwa dan psikolog klinis berpraktek di perkotaan membuat isu layanan kesehatan mental remaja menjadi hal yang harus menjadi prioritas. Di Indonesia, misalnya, hanya ada sekitar 0,29 psikiater dan 0,18 psikolog per 100.000 penduduk.
Bahkan, dalam riset tahun 2021 yang dilakukan Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran, sebanyak 96,4% dari hampir 400 remaja yang mereka survei kurang memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang sering mereka alami. Banyak dari mereka mengkritik layanan kesehatan di Indonesia yang belum tentu menjamin kerahasiaan dan cenderung menghakimi.
