Hasil Riset Temukan Sekitar 2,45 Juta Remaja di Indonesia Terdiagnosis Masuk Kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa

news lg 1656384041
Ilustrasi ODGJ (foto: Istimewa)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Sebuah penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan University of Queensland di Australia dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa 1 dari 20 remaja di Indonesia terdiagnosis memiliki gangguan mental, mengacu pada Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-V) keluaran American Psychological Association (APA).

Ini berarti, sekitar 2,45 juta remaja di seluruh Indonesia masuk dalam kelompok Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Penelitian ini termuat dalam makalah berjudul Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang bakal terbit pada 20 Oktober pekan depan.

Dijelaskan oleh Amirah Ellyza Wahdi, peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM yang terlibat dalam studi, hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan kecemasan menjadi gangguan mental paling umum di antara remaja berusia 10-17 tahun di Indonesia (3,7%). Disusul dengan gangguan depresi mayor (1%), gangguan perilaku (0,9%), serta gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) yang masing-masing diderita oleh 0,5%.

Baca Juga:Bosan Sate Kambing Coba Resep Kambing Bakar Zam-Zam, Sambalnya Bikin KangenApa Pentingnya Hari Tanpa Kutang?

Gangguan kecemasan dalam I-NAMHS terdiri dari dua jenis, yakni fobia sosial dan gangguan kecemasan menyeluruh. Fobia sosial adalah ketakutan berlebih terhadap situasi sosial tertentu seperti presentasi di depan kelas, dll. Sementara gangguan kecemasan menyeluruh adalah kecemasan berlebih terkait beberapa kejadian atau aktivitas, misalnya karena menghadapi ujian.

Gangguan kecemasan ini bisa ditimbulkan oleh berbagai faktor, mulai dari genetik, sistem saraf, keluarga, dan lingkungan sekitar. Ketika seseorang gagal mengatasi menangani stres yang dialami, ini akan menjadi gangguan kecemasan.

Riset I-NAMHS menemukan bahwa remaja yang menderita gangguan cemas akan cenderung mengalami gangguan fungsi, setidaknya pada satu ranah hidup mereka. Artinya, mereka memiliki kualitas hidup yang lebih buruk ketimbang orang tanpa gangguan kecemasan.

“Ada empat domain yang kami evaluasi dalam I-NAMHS, yaitu keluarga (masalah dengan orang tua atau kesulitan beraktivitas bersama anggota keluarga), teman sebaya (masalah hubungan pertemanan), sekolah atau pekerjaan (kesulitan menyelesaikan tugas, performa akademik buruk), atau distres personal (rasa bersalah atau sedih yang berkepanjangan),” tulis Amirah.

0 Komentar