Karya Siliwangi ini mungkin rnerupakan pengganti telaga Sanghyang Rancamaya yang sudah ditimbuni oleh Sang Haluwesi adik Prabu Susuk Tunggal karena disana ada gaib jahat yang selalu muncul.
Sebagaimana dikutip dari naskah lontar Carita Parahiyangan (CP) memberitakan: “….Sanghyang Haluwesi. Nu nyaeuran Sang Hyang Rancamaya. Mijiilna ti sanghyang rancamaya: Ngaran kula ta Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hyang banaspati …” Yang rnenurut Pantun “Disaeurna Talaga Rancahmaya” gaib jahat itu tiap tahun selalu meminta “pimatarameun” (kurban) tujuh pasang manusia muda-mudi yang disebut “Sekar Manah” .
Berita tersebut mengisyaratkan, bahwa pada zamannya Prabu Susuk Tunggal (1382-1482 M) mertuanya Prabu Sitiwangi, Telaga Sanghyang Rancamaya sudah tidak difungsikan lagi termasuk Pasir Badigul atau menurut Rajah Pakuan disebut Sanghyang Padungkukan, sebagai Balay Pamunjungannya. Tentu saja penelitian lebih lanjut masih perlu dilaksanakan.
Babalayan Pamujan
Baca Juga:Terkuak Nama Asli Ciung Wanara yang Memilih Mengasingkan DiriHari Santri, Kemenag Gelar Kongres Aksara Pegon 21-23 Oktober 2022
Babalayan Pamujanini pun berupa punden yang terdapat di Kabupatian-kabupatian Luar Dayeuh aiau Kapuunan-kapuunan. Undakan pada punden macam ini hanya sebanyak 9 atau 7 undak dan tidak terdapat arca-arca, yang ada hanya kumpulan batu-batu besar pada tiap tingkat undakannya. Fungsinya sebagai tempat upacara “Muja” baik kepada para Sanghyang maupun kepada para Karuhun, yang dipimpin oleh Pandita atau Puun dan Kokolot.
Saung Sajen (Pancak Saji)
Saung Sajen (Pancak Saji), berupa bangunan khusus untuk menyimpan sesaji dalam upacara “nyajen”,terbuat semacam rumah panggung mini tanpa kamar-kamar, tapi ada semacam altar untuk penyimpanan sesaji. Bangunan ini terdapat di lingkungan pemukiman baik dekat Keraton, Rumah Puun, Rumah Bupati ataupun rumah warga’
Disamping sarana tersebut, masih ada tempat-tempat “sajen” yang tersebar di tempat-tempat ylang dianggap memiliki daya gaib atau keramat seperti didepan gua, dibawah pohon besar, dihulu sungai, dan di tengah hutan.
Tempat-tempat semacam itu sebahagian besar senantiasa ditandai oleh adanya “batu-batu besar” dan “batu-datar” sebagai wahana penyatuan diri antara manusia dengan sang gaib yang dihormatinya’. Tujuan demi terselenggaranya keselarasan hidup antar sesama makhluk dan unsur alam lainnya sesama ciptaan Sang Hyang Keresa. Sebab dalam ajaran Aganma Sunda, makhluk manusia yang sudah “nyunda”, mesti menyadari, bahwa yang diistilahkan:
