“utek tongo walang taga, manusa buta detia, lukut jukut rungkun kayu, keusik karihkil cadas batu, cinyusu talaga Sagara, bumi langit jagat mahpar, angin leutik angin puih, bentang rapang, bulan ngempray, Sang herang ngenge nongtoreng. Eta kabeh ciptaan Sang Hyang Tunggal. Keur inyana mah kabeh geh sarua euweuh bedana”.
(satwa terkecil sampai yang paling besar, manusia-raksasa dan detia, lumut-rumput-perdu sampai kekayuan, pasir-kerikil-cadas sampai bebatuan, mata air-telaga sampai iautan, bumi-langit sampai semesta alam, angin semilir sampai angin topan, bintang bertaburan-Bulan terang, Matahari terik. Itu semua ciptaan Sanghyang Tunggal.Bagi-Nya kesemuanya itu sama tidak ada perbedaannya).
Beranjak dari faham inilah, maka bagi manusia sunda “alam itu bukan untuk ditaklukan, tetapi harus disahabati, diakabi bahkan dihormati”. Implementasinya, melalui pranata “puja-puji-saji” lewat mandala suci sarana peribadatan.
Baca Juga:Terkuak Nama Asli Ciung Wanara yang Memilih Mengasingkan DiriHari Santri, Kemenag Gelar Kongres Aksara Pegon 21-23 Oktober 2022
Sarana peribadatan agama sunda yang disebut-sebut Pantun Bogor diantaranya Balay Pamunjungan Rancamaya-Pasir Badigul pendetanya Resi Tugu Perbangsa, Balay Pamunjungan Kihara Hyang-Sipatahunan, pendetanya (Brahmesta Tunda Pura), Babalayan Pamujan Mandalawangi-Talaga Wana, pendetanya Resi Handeulawangi, Babalayan Pamujan Genter Bumi-Cisakawayana Resi Tutug Windu. Balay Pamunjungan Mandala Parakanjati (SBR) – Sanghyang Tampian Dalem, pendetanya Sanghyang Resi Kumarajati dan lain-lain.Dambaan utama orang sunda setelah meninggal, bukan untuk mencari surga, tetapi menghendaki bisa kembali ke “Kahyangan” (Mandala Agung) sebagaimana asalnya, tanpa mesti melewati dulu mandala-mandala dibawahnya. Sebab ketika lahir datang dari “mandala Hyang” tanpa rencana, kembali pun melalui proses “Ngahiyang” tanpa mesti direncanakan menginginkan sorga. Hal inilah yang dalam pengistilahan Sunda disebut “mulih kajati mulang ka asal”.Sarana peribadatan Sunda Kuno yang tidak bernuansa l{indu-Budha, jika ditilik dari aspek historis nasional, memiliki nilai-nilai spiritual yang mandiri. Dalam hal ini, jika semua pusat pemerintahan masa silam di Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan berdiri megahnya Candi-candi, di pusat-pusat Kerajaan Sunda Pajajaran, Galuh, Talaga, Singaparna juga Kawali, yang jadi penanda kebesarannya adalah “tradisi megalitiknya” bercirikan batu-batu besar. Inilah suatu bukti bahwa orang sunda telah memiliki agama lokal yang cukup mapan.
