Mengungkap 3 Bentuk Tempat Peribadatan Agama Sunda

punden bagian sudut sisi barat laut
Punden Berundak Lebak Cibedug Kampung Cibedug, Kelurahan Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Sumber: kemdikbud.go.id
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Agama Sunda memberikan ajaran tentang proses hidup manusia sejak lahir, hidup, mati dan menitis secara reinkarnasi. Menghadapi proses ini manusia sunda dihadapkan kepada dua jagat yang disebut “Jagat jadi carita dan Jagat kari carita” (dunia fana dan alam baka).Di jagat kari carita. terdapat mandala dan buana karma atau Jagat pancaka. Mandala tersebut terdiri dari 9 tingkat secara vertikal, diantaranya dari bawah keatas:

  1. Mandala Kasungka
  2. Mandala Parmana
  3. Mandala Karma
  4. Mandala Rasa
  5. Mandala Seba
  6. Mandala Suda
  7. Mandala Jati
  8. Mandala Samar
  9. Mandala Ageung.

Setiap roh orang mati, harus masuk dulu ke Mandala Kasungka (mandala paling bawah). Jika semasa hidupnya tidak-baik, harus pindah dulu ke Kawah Panggodogan di Buana Karma, untuk mendapatkan ujian-ujian. Bagi yang masa hidupnya baik-baik, bisa secara langsung naik sampai ke mandala yang lebih tinggi.

Sarana sebagai tempat peribadatan Agama Sunda di zaman Pajajaran ada tiga macam yang termasuk inti:

Balay Pamunjungan

Baca Juga:Terkuak Nama Asli Ciung Wanara yang Memilih Mengasingkan DiriHari Santri, Kemenag Gelar Kongres Aksara Pegon 21-23 Oktober 2022

Balay Pamunjungan berupa bukit Punden Berundak 12 undakan, yang dibagian puncaknya dan di 2 tingkat di bawahnya terdapat Arca-arca sebanyak 800 buah, yang lajirn disebut “Arca Domas”. Konon, Balay Pamunjungan yang paling mewah dan megah di Pakuan Pajajaran, pada zarnannya Prabu Siliwangi. Yakni yang disebut Balay Pamunjungan Kihara Hyang berlokasi di “Leuweung Songgom” (hutan songgom) kira-kira wilayah Kampung Bantar Kemang sekarang.

Selain lapangan di bawahnya sangat luas juga di puncali bukit yang disebut balay, dipadati oleh arca-arca emas seutuhnya sebanyak 400 buah. Arca lain yang 400 lagi dari batu, terdapat di tingkat kedua ketiga yang disebut Babalayan.

Punden semacam ini terdapat hanya di Pakuan (pusat kerajaan), sebagai sarana upacara peribadatan “munjung” kepada Hyang Maha Agung baik dalam Seren Taun Guru Bumi (tahunan) maupun Seren Taun Tutug Galur (Kuwera Bakti) delapan tahunan.

Bahkan kegiatan-kegiatan upacara kecil lainnya. Sebagai pimpinan keagamaannya disebut Brahmesta yang dibantu oleh para Ganidri, Mqrukangsa, Puun Meuray, Puun Sari, para Puun dan para Pangwereg Punjung.Sebagai tempat mandi sucinya, telaga yang terdapat di sungai Cihaliwung, yakni yang disebut T’alaga (Wa)rena Mahawijaya atau lebih dikenal dengan sebutan Leuwi Sipatahunan. Secara hipotesis Telaga dan Balay Pamunjungan Kihara Hyang (Gugunungan-ngabalay – bukit sebagai balay) ini dibuat oleh Sri Baduga Maharaja sebagairnana tertera dalam prasasti Batutulis Bogor “…..ya siya nu nyiyan sakakala gugunungan ngabalay, nyiyan -samida, nyiyan sanghyang talaga (wa)rena mahawijaya……” 

0 Komentar