Naskah Merapi-Merbabu, Ada Mantra Keperkasaan bagi Kaum Adam

Naskah Dharma Patanjala Andrea Acri
Naskah Dharma Patanjala (dok. Andrea Acri) Salah satu naskah Merapi-Merbabu
0 Komentar

Beberapa gunung yang disebut adalah Mandarageni (Merapi), Damalung (Merbabu), Mahendra (Lawu), Kampud (Kelud). Disanalah Bujangga Manik bersilaturahmi sekaligus belajar, dan disini pula lah terjadinya proses pertukaran kebudayaan. Tidak heran jika banyak naskah dari gunung lain yang ditemukan di skriptorium Merapi-Merbabu.

Ada pula hal menarik yang menggambarkan bagaimana sosio-kultural pada waktu itu. Naskah-naskah itu semuanya ditulis di daun tal (palem) dan nipah yang notabene tidak tumbuh di gunung itu. Almarhum Rama Kuntara, ketika meneliti naskah Merapi-Merbabu, pernah mengatakan bahwa naskah-naskah tersebut bahannya tidak mungkin dari daerah gunung tempat ditemukan naskah, melainkan dari daerah pantai di kawasan pesisir utara.

Sehubungan dengan hal itu, kemudian ditemukan titik temu pada buku Suma Orientale karya Tome Pires. Ketika Tome Pires singgah di pelabuhan di pesisir utara, dia melihat bahwa Brahmana dan para ajar dari gunung, turun pergi ke pantai untuk membeli rontal yang kemudian digunakan untuk menulis naskah.

Baca Juga:Apple iPhone 14 Bakal Hadir Bulan DepanCegah Gejala FOMO Kurangi Akses Media Sosial

Kemudian aksara apa yang digunakan dalam naskah ini? Ini juga menarik, karena ternyata di sinilah mata rantai perubahan aksara Jawa Kuna ke Jawa Baru. Bagi yang belum tahu, aksara Jawa Kuna (Kawi) adalah aksara seperti yang digunakan untuk menulis prasasti, sedangkan Jawa Baru adalah yang kita kenal dengan ha na ca ra ka itu.

Pada naskah-naskah Merapi-Merbabu terdapat dua aksara, yakni aksara Merapi-Merbabu dan aksara Jawa Baru. Terkait dengan aksara Merapi-Merbabu, Prof. Willem van der Molen, seorang filolog dari Belanda berpendapat bahwa aksara tersebut bukanlah turunan aksara Jawa Kuna gaya Majapahit seperti yang banyak kita jumpai pada prasasti era Majapahit, tetapi justru lebih dekat sebagai turunan dari aksara Jawa Kuna gaya Mataram Kuna (Mataram Hindu-Buddha), namun hal ini masih bisa diperdebatkan dan dibantah lagi dengan penelitian paleografis lebih lanjut.

Menarik bukan, ketika kita membayangkan pada sekitar abad ke-10 Masehi, kerajaan Mataram Kuna atau Medang yang dikisahkan hancur diduga lantaran meletusnya gunung Merapi, dan pusat kerajaan pindah ke Jawa Timur, di gunung-gunung tidak jauh dari pusat kerajaan Mataram Kuna masih terdapat orang-orang yang mempertahankan kebudayaannya. Ketika orang-orang meninggalkan Prambanan dan Borobudur, para ajar masih mengajarkan ajaran yang terpahat di candi-candi di atas gunung.

0 Komentar