CARUBAN NAGARI-Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata Merapi Merbabu? Sebuah nama gunung di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Yogyakarta? Sebuah Taman Nasional? Ya benar memang!
Di balik semua itu, serta kepopuleran Merapi Merbabu sebagai gunung yang banyak didaki, juga konsep kosmis Merapi–Yogyakarta–Pantai Selatan yang kerap dibicarakan, tahukah bahwa di daerah Merapi Merbabu pada sekitar abad 16 sampai 18 terdapat sebuah skriptorium besar?
Bagi yang belum mengetahui, skriptorium adalah ruang untuk menyimpan, menyalin, menulis, atau membaca manuskrip. Nah, manuskrip sendiri adalah apa yang sering kita sebut dengan naskah kuno yang ditulis dengan tangan. Media tulis naskah itu bermacam-macam, mulai dari kertas, dluwang, daun tal (rontal kemudian menjadi lontar), dan daun nipah (dua terakhir banyak ditemukan dalam naskah Merapi-Merbabu).
Baca Juga:Apple iPhone 14 Bakal Hadir Bulan DepanCegah Gejala FOMO Kurangi Akses Media Sosial
Dahulu, di sekitar gunung Merapi dan Merbabu, termasuk gunung Telomoyo, Andong, dan Ungaran, sangat banyak ditemukan pangajaran. Pangajaran adalah sekolah atau pesantren pada masa Jawa Kuna. Setidaknya, banyak ditemukan bukti arkeologi di sekitar gunung yang mempunyai nama Jawa Kuna Mandarageni dan Damalung, seperti Prasasti Watu Lawang, Prasasti Ngrawan, bahkan di puncak Merbabu yang bernama puncang Kentheng Songo ini pun terdapat beberapa watu lawas. Selain itu, di lereng-lereng kedua gunung ini juga terdapat struktur-struktur bebatuan yang diduga sebuah pangajaran dahulu kala.
Sehubungan dengan banyaknya pangajaran di sekitarnya, tentu saja membutuhkan semacam buku-buku bahan ajar. Maka dari itu, kemudian ditemukan sebuah kumpulan naskah yang sekarang dikenal dengan nama naskah-naskah skriptorium Merapi-Merbabu.
Apakah naskah-naskah tersebut hanya berasal dari sekitar Merapi Merbabu? Tentu saja tidak. Ada naskah yang diketahui berasal dari sejumlah pegunungan: Telomoyo, Andong, Karungrungan (nama kuna Ungaran), Wilis, bahkan ada beberapa pula yang beraksara Sunda Kuna. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Pada zaman dahulu, praktik nyantrik dan laku itu sudah sangat wajar. Seperti jika membaca Bujangga Manik, sebuah teks yang menceritakan tentang agamawan dari Sunda yang berkeliling pulau Jawa dan Bali. Di perjalanannya, Bujangga Manik banyak mengunjungi pangajaran di gunung-gunung.
