CARUBAN NAGARI-Jalan Karanggetas Kota Cirebon hingga saat ini menjadi salah satu pusat perekonomian di Kota Cirebon, di kanan kirinya terdapat pertokoan yang berjejer tidak berbeda dengan ruas jalan-jalan lainnya di Kota Udang. Padahal, jalan tersebut tidak banyak disukai pejabat publik karena mitos yang sudah melekat di masyarakat.
Menurut budaya tutur, mitos itu berasal dari kisah seorang pangeran yang berasal dari Baghdad bernama Syekh Magelung Sakti. Dari kesaktiannya, tidak ada seorang pun yang mampu memotong rambutnya yang panjang hampir menyentuh tanah.
Hingga akhirnya, pangeran sakti itu sampai di suatu tempat di Cirebon dan bertemu dengan orang tua yang tidak dikenalnya. Orang tua itu pun menawarkan diri untuk memotong rambut Syekh Magelung Sakti. Dengan nada menantang dan congkak, ia menyanggupi tawaran tersebut, dan orang tua itu dapat dengan mudah memotong rambut yang kebal terhadap benda tajam hanya dengan jari tangannya.
Baca Juga:PBNU Minta Pemerintah Bikin Regulasi Larangan Penyebaran Paham WahabiPutra Sunan Kalijaga, Raden Umar Said Ulama Termuda Wali Songo
Ada versi lain yang menyebutkan bahwa, berdasarkan Kitab Pangeran Wangsakerta “Caruban Nagari” yang ditulis pada tahun 1670. Karanggetas berasal dari dua kata yakni ‘Karang’ yang berarti Tanah dan ‘Getas’ bermakna mudah patah (rapuh).
Budayawan Cirebon, Jajat Sudrajat menjelaskan, mitos tersebut, masih mengakar di masyarakat pribumi maupun luar Cirebon. Dari mitos itu, tidak sedikit pejabat negara yang enggan melewati Jalan Karanggetas ketika mengikuti acara resmi kenegaraan.
Namun demikian, seiring melekatnya mitos Jalan Karanggetas, daerah tersebut banyak disukai para pedagang. Di sepanjang Jalan tersebut, berjejer toko emas yang mayoritas penjualnya adalah kaum Tionghoa Cirebon.
“Bukan hanya toko emas saja pedagang kecil juga banyak yang jualan di Karanggetas. Cirebon kan caruban dari semua suku dan ras ada di sini bersatu karena dari sejarahnya sudah tercatat,” jelas Jajat, Senin (15/3/2021).
Dia mengatakan, sejak Jalan Karanggetas menjadi pusat niaga Kota Cirebon, belum pernah terdengar beberapa kasus besar. Seperti pemalsuan emas hingga barang-barang gaib yang dijual ke pedagang di Jalan Karanggetas ini.
“Bahkan pembobolan toko emas di sana juga terbilang jarang sekali,” ia membeberkan.
