Di era modern yang dipenuhi dengan berbagai teknologi canggih ini ternyata wayang kulit Cirebon masih dapat bertahan dan tak lekang ditelan jaman, hal ini dibuktikan dengan masih sering diadakannya pementasan wayang kulit yang banyak dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat untuk menontonnya sehingga bisa dikatakan minat masyarakat Cirebon terhadap kesenian tradisional yang satu ini masih tinggi.
Dalam melakukan pementasan wayang kulit, seorang dalang atau orang yang memainkan wayang kulit akan menggunakan bahasa pengantar dengan dialek Cirebon, namun setelah tahun 1980 para dalang yang mementaskan wayang kulit mnenggunakan bahasa dialek Cirebon yang sudah dicampur dengan bahasa Indonesia yang bertujuan agar masyarakat terutama anak muda memahami isi ceritanya.
Di dalam suatu pementasan wayang kulit di daerah Cirebon terdapat beberapa karakter yang berbeda penyebutannya dengan pementasan wayang kulit di daerah lainnya. Perbedaan penyebutan karakter wayang kulit ini cukup mencolok, di antaranya Naga Pracana disebut sebagai Kala Srenggi, selain itu pertunjukan wayang kulit yang ada di daerah Cirebon lebih kental dengan suasana Islam.
Baca Juga:Pertemuan Sultan Sepuh Aloeda II-Pewaris Kesultanan Banjar Pangeran Yusuf Isnendar Cevi, Berikut Kisah Sultan Banjar yang Diasingkan BelandaSulit Dipahami, Ada Lautan Susu di Laut Selatan Jawa
Seluruh dalang se Kabupaten Cirebon telah sepakat menetapkan 10 Dzulhijjah jadi Hari Wayang Cirebon. Penetapan Hari Wayang Cirebon pada 10 Dzulhijjah dilatari peristiwa bersejarah. Saat ini, Sunan Kalijaga atas permintaan Sunan Gunungjati dan Sunan Bonang, mementaskan wayang kulit pertama kalinya untuk syiar Islam. Momen itu, terjadi pada tahun 1479 Masehi. Bertepatan dengan pernikahan Sunan Gunungjati dengan Nyi Mas Pakungwati sekaligus Jumenengan Sunan Gunungjati menjadi Sultan di Keraton Cirebon.
Pagelaran wayang kulit di Kompleks Kramat Buyut Trusmi Cirebon merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Wayang Cirebon yang bertujuan agar pentas pewayangan sebagai media dakwah Islam tetap lestari. Pasalnya, meski telah ada Hari Wayang Sedunia yang diperingati pada 7 November, dirasa kurang meningkatkan eksistensi wayang khususnya di Cirebon.
Acara dihadiri oleh Sultan Sepuh Aloeda II Kraton Kasepuhan Raden Rahardjo Djali, Wakil Bupati Cirebon Wahyu Tjiptaningsih, budayawan Cirebon Raden Udin Kaenudin dan Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Cirebon dan Dalang Sudarso Warsintan tampak hadir berbaur bersama masyarakat menonton pagelaran wayang kulit di Kompleks Kramat Buyut Trusmi Cirebon.
