Di Makkah, Snouck tinggal beberapa lama dari 1884-1885. Di Jeddah dan Makkah, Snouck mendiskusikan soal hukum Islam dengan sarjana-sarjana Arab yang terkenal waktu itu. Ia juga mempelajari kehidupan sehari-hari orang Arab di Makkah dan mengumpulkan bahan-bahan dari orang Indonesia yang bermukim di sana tentang sikap pemeluk agama Islam terhadap kekuasaan kolonial, seperti Belanda dan Inggris.
Snouck sendiri memiliki pandangan terhadap Islam yang berbeda dari pada cara pandang pemerintah Belanda. Ia justru menekankan karakter agama Islam dan umat Muslim Hindia Belanda yang damai. Dalam buku Mekkah-nya, ia menuliskan tentang Islam dan haji berdasarkan penelitian langsung terhadap komunitas Jawi di Makkah.
Snouck menuliskan, bahwa para haji, pengikut tarekat mistis, sarjana agama di Makkah, bukanlah orang-orang yang berbahaya dan fanatik. Namun, mereka secara bersama-sama merepresentasikan jaringan intelektual Hindia-Timur dengan kota-kota besar Islam. Pemerintah Hindia Belanda sendiri memandang Makkah sebagai pusat konspirasi anti-Belanda dan anti-kolonial.
Baca Juga:Blogger Thailand Makan Sup Kelelawar Utuh, Phonchanok Srisunaklua Ditangkap PolisiKraton Kasepuhan Sultan Sepuh Aloeda II: Pertahankan Wayang Kulit Cirebon
Dalam buku tersebut disebutkan, bahwa komunitas Jawi di Makkah berkontribusi bagi terbentuknya diskursus Islam di Hindia Belanda. Hal demikian terjadi bersamaan dengan pelembagaan ulama dan pesantrennya.
Berbeda dengan pandangan pemerintah Belanda, Snouck juga menyebutkan bahwa komunitas Jawi di Makkah dan jamaah haji Hindia Belanda pada umumnya merupakan sarjana dan guru yang tidak mementingkan duniawi. Sebagian besar dari mereka hanya ingin menyembah Allah dengan damai. Dengan demikian, Snouck memberi masukan bahwa penindasan terhadap umat Islam tidak perlu dilakukan.
Snouck juga berpandangan bahwa gelar haji dan pakaian Arab tidak perlu direorganisasi seperti yang ditegaskan dalam ordonansi 1895. Selain itu, pembatasan haji juga dinilai hanya akan menghasilkan dampak yang tidak menguntungkan.
Kendati demikian, Snouck tetap mengingatkan pemerintah kolonial untuk berhati-hati terhadap bahaya politik fanatisme Islam. Pria yang lahir di Oosterhout, Belanda, 8 Februari 1857 silam itu menunjuk pada kelompok pan-Islamisme dan kaum fanatik lokal dalam bentuk tarekat.
Dia berpandangan, kelompok Islam inilah yang menjadi dasar atau alasan ketakutan Belanda terhadap Islam. Sebab, kelompok Muslim ini menerjemahkan Islam ke dalam doktrin dan gerakan politik. Karena itulah, ia merekomendasikan kepada pemerintah Belanda untuk secara tegas memberantas gerakan Islam politik. Bahkan jika perlu, dilakukan tindakan militer dalam rangka membatasi ruang gerak pertumbuhan Islam politik di Hindia Belanda.
