CARUBAN NAGARI-Christian Snouck Hurgronje berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa dia masuk Islam. Dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold, pada 18 Februari 1886, Snouck mengaku bahwa ia berpura-pura menjadi Muslim agar misi yang direncanakan pemerintah Belanda berhasil. Surat kepada rekannya itu kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg, Belanda.
Snouck merupakan penasihat resmi pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Sebagai sarjana Belanda budaya oriental dan bahasa, ia banyak memberikan nasihat kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam menghadapi pribumi.
Pengetahuannya yang luas tentang Islam dan kebudayaan Muslim, telah meletakkan landasan bagi peningkatan hubungan antara pemerintah kolonial dengan Muslim Hindia Belanda. Nasehat Snouck terbukti berpengaruh terhadap pola hubungan kolonialisme Belanda dan umat Islam Hindia Belanda yang sebelumnya sarat dengan sentimen permusuhan.
Baca Juga:Blogger Thailand Makan Sup Kelelawar Utuh, Phonchanok Srisunaklua Ditangkap PolisiKraton Kasepuhan Sultan Sepuh Aloeda II: Pertahankan Wayang Kulit Cirebon
Dengan kefasihannya berbahasa Arab, Snouck menjadi orang langka asal Barat yang bisa memasuki Makkah pada 1885. Karena itulah, ia pun dipandang orang-orang bergelar haji lantaran sudah ke Makkah pada usia 27. Snouck kala itu memiliki nama Islam, Haji Abdul Gaffar.
Perjalanannya sebagai mata-mata di Makkah itu kemudian ia tuangkan dalam buku berjudul “Mekka” yang diterbitkan pada 1931. Buku “Mekka” ini aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dan terdiri dari dua jilid, yakni “Mekka:Die Stadt un Ihre Herren (Leiden: Brill, 1888), dan Mekka:Aus dem Hautigen Leben (mit Bilder-Atlas),(Leiden:Brill, 1889).
Kemulusan langkahnya ke Makkah itu tidak lepas dari bantuan informan pribumi asal Banten dari komunitas Jawi, Raden Abu Bakar Djajadiningrat. Mengutip Jajat Burhanudin dalam bukunya berjudul “Islam dalam Arus Sejarah Indonesia”, menyebutkan bahwa Snouck alias Abdul Gaffar mengangkat Abu Bakar tidak hanya sebagai guru bahasa Melayu, tetapi juga sebagai tokoh kunci yang memfasilitasi untuk berhubungan langsung dengan komunitas Jawi. Abu Bakar juga yang memperkenalkan Snouck kepada gurunya yang berasal dari Maroko, Sayyid ‘Abd Allah al-Zawawi (1850-1924), yang kemudian menjadi pelindung Snouck di Makkah.
Beberapa bulan setelah kedatangannya di Jeddah pada 24 Agustus 1884 dan tinggal di konsulat Belanda, Snouck kemudian pindah ke rumah Abu Bakar pada 1 Januari 1885. Di sana, ia mulai dikenalkan iman Islam secara personal. Pada 16 Januari 1885, di bawah kesaksian dua orang pegawai Turki, ia memeluk Islam. Meskipun bentuk masuk Islamnya Snouck ini hanyalah samaran belaka. Dari rumah Abu Bakar itulah, terbuka pintu bagi Snouck untuk memasuki kota suci Makkah.
