Bahasa Daerah Terancam Hilang, Sultan Sepuh Aloeda II: Tanamkan Bahasa Cirebon Sejak Dini

a31cf561 714c 4c1b 99e8 a4c138f44e73
Sultan Sepuh Aloeda II mengunjungi kawasan kerajinan batik Trusmi, disambut pengrajin batik Trusmi, Sabtu (26/11)
0 Komentar

CARUBAN NAGARI-Bahasa daerah adalah kekayaan negeri yang beragam ini. Namun, bukan perkara mudah menjaganya tetap hidup di tengah masyarakat penuturnya.

Saat ditemui di Kraton Kasepuhan, Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali menyambut baik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat menggelar acara Riksa Budaya wilayah Cirebon, Indramayu, dan Majalengka serta Kongres Bahasa Cirebon dalam rangka melestarikan nilai-nilai kearifan lokal.

“Semua pihak diharapkan memetik pelajaran penting. Sulit dimungkiri, upaya menjaga eksistensi bahasa daerah dan segala turunannya di negeri ini memang kerap tak mudah dilakukan. Namun, dengan ragam usaha, bahasa daerah tetap bisa membanggakan bangsa,” ungkapnya, Sabtu (26/11).

Baca Juga:Penggunaan Basa Cerbon Minim, Bahasa Cirebon: Jawa atau Sunda?Penampakan Monyet Turun Gunung di Kota Bandung, Warganet Takut Tanda Bencana!

Bahasa daerah ini harkat dan martabat bangsa, kata Sultan Sepuh Aloeda II, ketika bahasa daerah hilang, unsur budaya yang lain juga ikut hilang, misalnya tradisi yang menggunakan bahasa daerah,” ujarnya. Sementara itu, tradisi mengajarkan nilai-nilai pengetahuan dan kearifan lokal.

Fenomena tergesernya kearifan lokal, menurutnya dari keluarga. Zaman sekarang, bahasa pertama bagi anak-anak adalah bahasa Indonesia. Melestarikan budaya dan bahasa Cirebon maka perlu ditanamkan sejak dini kepada generasi muda. Hal ini harus dilakukan agar keduanya tidak punah di kemudian hari.

Menurutnya, bahasa adalah kekayaan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan agar tidak punah. Bahasa daerah adalah identitas dan merupakan bukti sejarah peradaban suatu daerah.

Sejarah hadirnya bahasa daerah harus terus digali dan disebarluaskan kepada generasi penerus, dari zaman ke zaman. Sebaliknya generasi muda pun harus memiliki rasa cinta dan bangga atas kekayaan budaya daerahnya.

“Butuh komitmen dari masyarakat, terutama generasi muda untuk terus mencintai budaya dan bahasa daerahnya,” ungkapnya.

Dukungan dari stakeholder, menurutnya, sangat diperlukan dalam rangka melestarikan budaya dan bahasa daerah tersebut. Tinggal ke depannya, lanjut pria yang kini giat meneliti sejarah Cirebon ini, desa dan kecamatan mengakomodasi pembinaan budaya lokal dan bahasa daerah. Hal itu dapat dilakukan melalui sanggar-sanggar atau komunitas-komunitas.

Selain itu, budaya seni seperti tari topeng, brai, lukisan kaca dan lainnya harus dilestarikan dan dikembangkan oleh para generasi muda Bangsa Indonesia. “Jangan sampai berbagai budaya luar masuk dengan bebas lalu menggerus kebudayaan dan kearifan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun temurun,” katanya.

0 Komentar