CARUBAN NAGARI-Cirebon adalah salah satu wilayah yang berada di Pulau Jawa, tepatnya di Provinsi Jawa Barat.
Cirebon memiliki letak geografis yang berbatasan dengan Indramayu di sebelah utara, Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kuningan di sebelah selatan, dan Majalengka di barat.
Secara budaya dan bahasa, Cirebon berada di antara masyarakat yang berbahasa Sunda dan Jawa. Wilayah sekitar yang menggunakan bahasa Sunda yakni Majalengka dan Kuningan.
Baca Juga:Penampakan Monyet Turun Gunung di Kota Bandung, Warganet Takut Tanda Bencana!Penguatan Nilai Budaya Lokal, Kota Cirebon Jadi Tuan Rumah Kongres Bahasa dan Riksa Budaya
Sedangkan wilayah sekitar Cirebon yang menggunakan bahasa Jawa yaitu Indramayu dan Brebes yang terletak di Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Yayat dalam jurnal “Bahasa Daerah di Wilayah Cirebon”, percampuran orang Jawa dan Sunda di wilayah Cirebon melahirkan orang Cirebon, dikutip dari carubannagari.com, Sabtu (26/11).
Keduanya hidup berdampingan dan berkomunikasi menggunakan dua bahasa yang dicampur. Campuran bahasa Sunda dan Jawa di wilayah Cirebon disebut bahasa Cirebon.
Lahirnya bahasa Cirebon dapat dipandang sebagai dialek dari dua bahasa. Jika yang dominan adalah bahasa Sunda, maka disebut bahasa Sunda dialek Cirebon.
Jika yang dominan adalah bahasa Jawa, maka disebut bahasa Jawa dialek Cirebon. Oleh karena itu, muncullah bahasa Cirebon.
Bahasa Jawa Cirebon mulanya merupakan bahasa penghubung yang kemudian berkembang menjadi bahasa kreol (bahasa unik).
Keunikan tersebut adalah terdapat perbedaan antara bahasa Jawa baku dengan bahasa Jawa Cirebon yang sudah terpengaruh oleh bahasa Sunda.
Baca Juga:Silaturahmi ke Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, Sultan Sepuh Aloeda II Beberkan Fakta Sejarah Kraton KasepuhanSultan Sepuh Aloeda II Serahkan Kajian Fakta Sejarah dan Hukum Keraton Kasepuhan ke Wali Kota Cirebon
Bahasa Jawa Cirebon jika dibandingkan dengan bahasa Jawa baku tentu akan terkesan lebih kasar.
Sunan Gunung Jati dalam melakukan dakwahnya menggunakan bahasa Cirebon sebagai pengantar dan di saat menjadi raja di Keraton Kasepuhan atau Keraton Pakungwati ia pun tetap menggunakan bahasa Cirebon.
Kemudian, ia menetapkan bahasa Cirebon sebagai sarana komunikasi lisan dan tertulis dalam urusan kegiatan pemerintahan.
Pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, bahasa Cirebon ditetapkan sebagai salah satu bahasa daerah yang ada di Jawa Barat dan menjadi bahasa resmi.
Menurut Pratomo dalam jurnal “Bahasa Jawa Cirebon dalam Komunikasi dan Interaksi Sosial” tahun 2003, hingga kini bahasa Cirebon masih berada di dalam kurikulum pendidikan sekolah.
