Kondisi Fisik Keraton Kasepuhan Sangat Memprihatinkan, Sultan Sepuh Aloeda II: Luqman Zulkaedin Harus Bertanggung Jawab

af401a64 8acc 414d 83b3 f4c13182d660
Tiang atau pun soko guru di bangsal tampak sudah melengkung
0 Komentar

2d0b01eb d1f7 41c0 b4e2 226c737d2368

3d27402c 4110 47ac b9c6 b16171621920

5e22ca6a c75a 41d0 9b9f ed0327b4baba

46debfc9 7fba 42b8 a6dc 3d14d59ab09d

69f798fd fa9b 4a41 966f 0fc9e2e4f548

f51971bf 3ec2 47fe b4a3 c9cfe14834ed

cfbc7cf8 2f6b 4e06 8f31 612af8931d18

936280db 8078 48ca ac21 419aac36097f

ed8855ee 4a92 4c26 ae5f 94f13453603c

Bagi Sultan Sepuh Aloeda II, mempertimbangkan nilai historis, arkeologis dan arsitektur bangunan. Keraton Kasepuhan salah satu bukti sejarah Cirebon harus dipertahankan. Luqman Zulkaedin harus bertanggung jawab atas kondisi Keraton Kasepuhan yang tidak terawat yang menyebabkan merosotnya nilai benda cagar budaya.

“Selama ini, sejak era Maulana Pakuningrat dan Arief Natadiningrat sejumlah temuan fakta sejarah, fakta hukum dan berbagai dokumen penting belum banyak diketahui publik. Kondisi keraton Kasepuhan jika dibandingkan dengan keraton-keraton lain di nusantara boleh dikatakan sangat berbeda. Keraton Kasepuhan sama sekali tidak terlihat lagi suasana keratonnya. Hal ini berdampak kepada kondisi lingkungan fisik kompleks keraton Kasepuhan,” tegasnya.

Perlu kerjasama lintas sektoral dalam penanganan benda cagar budaya, saran Sultan Sepuh Aloeda II, untuk menginventarisasi ulang aset-aset yang ada di Keraton Kasepuhan.

Baca Juga:Berikut Dokumen Kesultanan Kasepuhan, Bukti Status Tanah Hak Turun Temurun Sultan SepuhJejak Kesultanan Kasepuhan Tidak Pernah Jadi Daerah Swapraja

“Adanya partisipasi dari masyarakat yang independen sebagai upaya pelestarian benda cagar budaya sangat dibutuhkan,” pungkasnya. (*)

0 Komentar