Salah satunya, tampak terlihat jelas batu nisan dengan gaya Mataram Islam yang dihiasi dengan motif purnama sidhi kemungkinan besar merujuk pada nisan dari era Kesultanan Mataram Islam.
Motif purnama sidhi, yang merupakan simbol bulan purnama, sering ditemukan pada seni dan budaya Jawa, termasuk pada nisan kubur. Ini menunjukkan adanya pengaruh budaya Hindu-Buddha yang terakulturasi dengan Islam pada masa itu.
Motif bulan purnama (purnama sidhi) adalah simbol yang umum dalam budaya Jawa, sering dikaitkan dengan kesuburan, keagungan, dan siklus kehidupan. Penggunaannya pada batu nisan menunjukkan akulturasi antara budaya Hindu-Buddha dan Islam.
Baca Juga:Makam Berlambang Purnama Sidhi Era Mataram Islam di Kompleks Pemakaman Blok Wuni Dawuan CirebonPertama Kalinya Sepanjang Sejarah Blok Wuni, Terungkap Nama Pohon di Kompleks Makam
Motif purnama sidhi pada batu nisan bisa jadi memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat pada masa itu. Bisa jadi berkaitan dengan siklus kehidupan, kematian, dan kehidupan setelah mati.
Sumber lain mengungkapkan, makam dengan lambang purnama sidhi biasanya merujuk pada makam yang diperkirakan berasal dari era Kesultanan Demak dan dikaitkan dengan ulama atau wali.
Ciri khas makam ini adalah nisan dengan ukiran berbentuk bulatan, dikenal sebagai langgam purnama sidhi.
Nisan dengan langgam purnama sidhi umumnya ditemukan pada makam tokoh agama, seperti ulama atau wali, yang memiliki peran penting pada masa lalu.
Makam itu masih berdiri utuh di sana karena warga sekitar masih menaruh peduli untuk sekadar membersihkannya. Ditengarai, menurut budaya tutur setempat makam itu adalah sosok telik sandi dan penasehat Ki Bagus Jafar atau Ki Gede Dawuan, tokoh yang terkait dengan sejarah desa Kemlakagede, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon.
