Menurut Babad Mangir, Ki Ageng Mangir dibunuh saat melakukan “pisowanan” ke hadapan Penembahan Senopati , sebagai seorang yang ingin menikahi anaknya dalam adat Jawa itu harus sowan, pertama melamar, kedua sujud menyembah dia (Panembahan Senopati) sebagai mertua.
Adat yang dipegang teguh juga melarang Ki Ageng Mangir untuk membawa pasukan dan senjatanya saat menghadap Panembahan Senopati, termasuk Tombak Baru Klinting. Pada saat sowan Ki Ageng Mangir menemui Nasib tragis, kepalanya dibenturkan ke batu gilang tempat duduk sang raja.
Pada saat itu kondisi Putri Pembayun lagi hamil merasa khawatir, dengan meninggalnya Ki Ageng Pembayun dikarenakan takut bayi yang dalam kandungan dibunuh. Maka Putri Pembayun mengungsi ke pesisir Utara Jawa atau Pati , tempat kakeknya Ki Buyut Penjawi.
Baca Juga:Jalan Kuno Pajajaran-Majapahit di Kawasan Hutan Poros Ciamis-Banjar, Ada Punden Berundak Mengarah KiblatRitual Ruwatan Bangsa di Candi Ngawen
Setelah dewasa Bagus Wonoboyo bergabung menjadi laskar Mataram yang berperang melawan VOC, dalam perang Jepara-Batavia pada 1618. Pasca perang, anak dan ibu ini hijrah ke daerah Tapos Depok, Jawa Barat. Di sana, mereka bergabung lagi dengan Pasukan gerilya Pangeran Jayakarta dan komunitas pasukan Mataram yang mengemban tugas telik sandi dari Sultan Agung, Raja Mataram saat itu, untuk menghancurkan VOC di Batavia.
Perjuangan inilah yang diteruskan oleh putri dari Bagus Wonoboyo yang bernama Raden Ayu Utari Jayaningsih. Cukup panjang memang latar belakang keluarga putri cantik ini. Dan sejarah telah mencatat menambah daya pikat kisah heroiknya sebagai salah satu orang yang terlibat dalam pembunuhan JP Coen, sang Gubernur Jenderal VOC yang tersohor.
Strategi Intelejen Pasukan Mataram
Kisah heroik Raden Ayu Utari dimulai dari sebuah operasi intelijen rahasia yang dijalankannya bersama pasukan Mataram. Sejarah seakan terulang kembali, sebagaimana dulu neneknya, Rara Pembayun, menyamar sebagai ‘ledhek’, Raden Ayu Utariyaningsih juga menyamar, tapi sebagai penyanyi. Ia menjadi seorang penyanyi di kastil milik JP Coen, yang bertugas untuk menghibur para perwira VOC pada malam hari.
Sebagai penyanyi ia berhasil merebut hati JP Coen dan menjadi penyanyi kesayangannya. Lebih daripada itu, ia pun berhasil menjalin persahabatan dengan Eva Ment, istri JP Coen. Di dalam kastil tersebut ia tidak sendirian, ia diam-diam dibantu seorang pemuda yang sehari-harinya bekerja sebagai juru tulis VOC. Pemuda itu bernama Mahmudin alias Wong Agung Aceh, yang diselundupkan ke VOC melalui kapal dagang Aceh yang disewa untuk mengangkut meriam dari Madagaskar.
