Sejarah Peteng, Sejarah Rante Martabat Tembung Wali

Sejarah Peteng Sejarah Rante Martabat Tembung Wali
Sejarah Peteng Sejarah Rante Martabat Tembung Wali
0 Komentar

RASULULLAH berputra Fatimah, Fatimah berputra Sri Husen Syahid, Sri Husen Syahid berputra Zaenal Abidin. Zaenal Abidin berputra Sayidina Zaenul Kabir. Sayidina Zaenul Kabir berputra Imam Jumadil Kabir, Sang Imam Jumadil Kabir berputra Raja Umdah Mesir. Raja Umdah Mesir berputra Ratu Banisrail. Ratu Banisrail berputra dua orang.

Demikian terungkap dalam buku beraksara pegon berbahasa Cirebon berjudul Sejarah Peteng, Sejarah Rante Martabat Tembung Wali yang diterjemahkan oleh Muhammad Mukhtar Zaedin, Sariat Arifia dan Ki Tarka Sutarahardja.

Lebih lanjut, dikutip dari buku tersebut, Kamis (11/12), putra pertama bernama Sayid Hidayatullah dan kedua bernama Sayid Nurullah. Karena ayahandanya telah wafat, demi untuk kemakmuran negara, Sayid Hidayatullah diarahkan untuk naik takhta agar menggantikan kedudukan ayahandanya.

Baca Juga:Momen Wali Kota Cirebon Terima Lukisan Ki Bangus RanginFestival Literasi Kota Cirebon, Kunci Utama Bentuk Masyarakat dengan Daya Nalar Tinggi

“Sayid Hidayatullah bersikukuh tidak mahu menggantikan ayahandanya. Ia hendak mencari Nabi Muhammad Rasulullah saw. Hal itu dikarenakan Sayid Hidayatullah sejak membuka Kunci Gedung perpustakaan menemukan sebuah kitab Ushul Qalam, yaitu sebuah kitab yang menjelaskan Hakikat Muhammad saw bahwa Nabi Muhammad saw itu adalah pokok asal asul dan pancaran seluruh ruh dunia,” tulisnya.

Molana Jati (Sunan Gunungjati), tulis buku tersebut, adalah orang Cempa yang hakikatnya masih keturunan Banisrail, sementara ibunya itu dari Pajajaran yang bernama Sari Kabunan. Mereka sudah berkumpul Gunung Sembung.

“Lama-kelamaan datanglah Pangeran Panjunan. Keinginan Pangeran Panjunan menjadi orang tua untuk memimpin seluruh pulau Jawa. Lama-kelamaan kelihatan bahwa wahyu kaprabon dirinya lebih rendah dibanding dengan Molana Jati. Oleh karenanya para warga Panjunan mempersilahkan Molanan Jati untuk menjadi pemimpin,” tulisnya.

Masih dalam buku tersebut, orang-orang Domas semuanya mempersilahkan dan mengangkat kedudukan sebagai pemimpin kepada Molana Jati. Warga Panjunan mengangkat diri Sang Sayid Hidayatullah Molana Jati yang akhirnya Pangeran Panjunan juga menjunjung kedudukannya.

“Syekh Molana Jati sudah terlaksana jumeneng sebagai Susunan Jati. Kemudian para warga Panjunan membangun Tembok Negeri Caruban, membuat Pintu Gapura Lawang Yastra Dalem Agung. Oleh karena jasa-jasa warga Panjunan, malahan salah satu warga Panjunan yang bernama Syekh Datuk Hafid telah telah masyhur dengan nama Ki Gede Gunungjati, yang memiliki putra seorang wanita yang bernama Nyahi Rarapi itu dikehendaki dan dinikahi oleh Sinuhun Jati. Dari pernikahan itu Sinuhun Jati malah mendapatkan putra yang bernama Pangeran Jayakalana dan juga seorang putra yang bernama Pangeran Sedang Lahutan yang meninggal sebagai syahid,” tulisnya.

0 Komentar