CARUBAN NAGARI-Pada mulanya, Pendeta Hindu bermadzhab Batara Wisnu Maharesi Santanu Murti beserta para pengikutnya meninggalkan negeri asalnya, kawasan sungai Gangga, Kerajaan Calankayana guna menyelamatkan diri dari serangan Kerajaan Samudera Gupta Maurya.
Sebelum mendarat di pantai utara Jawa Barat, Maharesi Santanu terlebih dahulu singgah di Srilangka dan Benggala. Ketika Maharesi Santanu mendarat di pantai utara Jawa Barat, saat itu berada dalam kekuasaan Kerajaan Salakanagara yang dipimpin oleh Maharaja Prabu Darmawirya Dewawarman VIII.
Oleh karena, Pendeta Syiwa Maharesi Santanu memiliki hubungan kekerabatan dengan Maharaja Prabu Darmawirya Dewawarman VIII. Beliau diizinkan mendirikan pemukiman baru di ujung timur Salakanagara di tepi sungai Cirebon, yang diberi nama desa Indraprahasta. Desa tersebut awalnya berupa kemandalaan yang bernama Mandala Indraprahasta. Selanjutnya kemandalaan Indraprahasta ini berkembang menjadi kerajaan. Nama Mandala atau kerajaan Indraprahasta ini mirip dengan nama kerajaan yang berada di India.
Baca Juga:Kisruh Perebutan Takhta Keraton Kasepuhan Cirebon, Negara Harus HadirPN Kota Cirebon Tegur Ahli Waris Alexander Radja Radjadiningrat Laksanakan Isi Putusan
Mandala adalah istilah yang berkaitan dengan Agama Hindu. Istilah ini muncul dalam Rig Veda sebagai nama bagian-bagian karya, tetapi juga digunakan dalam agama-agama India lainnya, khususnya agama Buddha.
Pendeta Hindu bermadzhab Batara Wisnu Maharesi Santanu Murti ini, memimpin nagari Indraprahasta dari tahun 285 – 320 saka atau 363 – 398 M dengan gelar Praburesi Indraswara Salakakretabuwana, dan menikah dengan putri Prabu Darmawirya Dewawarman VIII yang bernama Dewi Indari.
Wilayah Indraprahasta kala itu kini meliputi Desa Sarwadadi Kecamatan Sumber (sebagai pusat pemerintahan), Cimandung di Desa Krandon Kecamatan Talun dan Desa Cirebon Girang.
Wilayah Kecamatan Talun adalah daerah yang dialiri tiga hulu sungai, yaitu Sungai Grampak yang mengalir dari Desa Sarwadadi ke Desa Sampiran. Kemudian Sungai Suba yang mengalir dari Desa Patapan menuju Sampiran, serta Sungai Cirebon Girang yang mengalir dari Desa Cirebon Girang juga menuju ke Sampiran.
Kala itu duplikasi tempat-tempat di India diaplikasikan untuk menamai Gunung Cireme sebagai Indrakila, sungai yang melintasi wilayahnya diberi nama Gangganadi, termasuk memperdalam sungai yang kemudian diberi nama Setu Gangga. Disanalah, Pendeta Syiwa Maharesi Santanu memimpin tradisi upacara mandi suci, reduplikasi itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian mengenang tanah kelahirannya, kawasan sungai Gangga, Kerajaan Calankayana, India.
